Tanpa Pandang Bulu

Februari 20, 2008 at 3:03 pm (Artikel)

yaman.jpgAs-Saba’ merupakan salah satu surat yang terdapat dalam Al-Quran yang mengambil dari nama negeri yang sekarang disebut Yaman. Jika ada negeri, binatang, pohon dan hamba Allah dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an, maka ada sesuatu yang penting di dalamnya, yang dapat dijadikan pelajaran dan bekal bagi manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia sekarang dan akhirat kelak.
Dalam Surat As-Saba’ ayat 15-19 Allah mengisahkan negeri Saba’ (Yaman) yang sejahtera, adail dan makmur karena Sumber Daya Alamnya (SDA) melimpah ruah (kaya raya), tanahnya subur, penduduknya tekun beribadah dan giat bekerja. Selain itu Sumber Daya Manusianya (SDM) baik yang ditandai dengan cinta terhadap lingkungan dan mengusai ilmu pengetahuan khususnya pertanian, pengairan dan bendungan sehingga petani tidak kekurangan air sepanjang tahun.
Begitu suburnya tanah negeri Saba’ (Yaman) sampai halaman rumah penduduk menjadi kebun kurma dan anggur. Oleh sebab itu Al-Qur’an melukiskan sebagai “baldatun thayyibatun warabbun ghafur” sebuah negeri yang makmur sejahtera, bersih, berwibawa dan dibawah ampunan Allah.
Negeri Saba’ (Yaman) bukan hanya memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang menjadi impian semua negara karena sudah mapan akan tetapi juga menjadi persinggahan lalu lintas perdagangan dunia saat itu seperti Romawi, Mesir, India dan cina. Tetapi negeri Saba’ (Yaman) gemah ripah lo jenawi yang di lukiskan Al-Qur’an, ternyata bisa pula kehilangan segala-galanya hal itu disebabkan oleh munculnya generasi yang rakus dan tamak yang selalu melakukan korupsi dan mengabaikan norma dan etika dengan kata lain tidak mengikuti perintah dan larangan Allah.
Maka berangsur-angsur roda perekonomian yang sudah mapan mulai tidak stabil dan penghasilan negara merosot tajam tetapi kondisi tersebut belum menyadarkan mereka yang ada justru keserakahan terus berkembang dan akhlak diabaikan. Maka Allah memberi peringatan berupa bencana alam. Banjir melanda dimana-mana, kebun dan tanah pertanian yang produktif menjadi gersang dan tidak produktif yang tumbuh hanya tanaman yang tidak bisa diharapkan buah dan hasilnya. Sebagaiman yang dilukiskan Oleh Allah :
“Maka mereka berkata: “Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami[1239]”, dan mereka Menganiaya diri mereka sendiri; Maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi Setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (QS. 34:19)
Negeri Saba’ yang dilukiskan Allah diatas, khayal saya keadaanya sama dengan negara tercinta yang selama ini kita tempati “Indonesia” yang disebut sebagai zamrud khatulistiwa. Kalau di negeri Saba’ (Yaman) halaman rumah penduduknya menjadi kebun kurma dan anggur tetapi di Indonesia lain karena suburnya tongkat dilempar jadi tanaman (nyanyian). Lautnya luas, buminya penuh dengan tambang, hutannya ribu juta hektar, iklimnya hangat sepanjang tahun semua itu kita terima cuma-cuma alias gratis tanpa jeri payah Allah telah memanjakan rakyat Indonesia.
Tapi akhir-akhir ini bencana juga melanda dan tidak kunjung berakhir mulai dari tsunami di Aceh sampai lumpur Lapindo di Sidoarjo yang telah menelan banyak korban, kerugian dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Musibah beruntun yang kita alami rasanya kita hanya bisa memohon dan ber do’a agar Allah menjauhkan nasib negeri kita tercinta seperti nasib negeri Saba’. Semoga musibah beruntun yang terjadi di negeri kita tercinta ini dapat menumbuhkan keinsafan dan kesadaran bagi kita semua dan kembali ke jalan yang di Ridhoi Allah SWT.
Karena bencana atau siksa itu tidak menimpa kepada mereka yang melakukan kerakusan, ketamakan dan yang tidak mengikuti perintah dan larangan Allah saja, akan tetapi hukum alam telah membuktikan bahwa bencana dan siksa itu menimpa semuanya. Sebagaimana firman Allah :
“dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya”. (QS. 8:25)
Jangan salahkan musim panas atau kemarau dan jangan salahkan angin puting beliung yang menyebabkan bencana alam yang menimbulkan kerusakan lingkungan di negeri tercinta ini, karena Allah telah menciptakan keseimbangan alam, tetapi kita manusia yang merusak keseimbangan tersebut sehingga kerusakan terjadi baik di laut maupun di darat. Hal itu di tegaskan oleh Allah dalam firmanNya :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. 30:41)
Melihat kondisi diatas yang bukan waktunya sekarang untuk saling menyalahkan apalagi mengkambing hitamkan orang lain, yang kita perlukan adalah keinsafan, kesadaran dan kesediaan hati untuk mengakui kelemahan, dan koreksi diri terhadap kesalahan yang selama ini kita lakukan, sehingga menyebabkan kesengsaraan baik pada diri kita sendiri maupun orang lain.
“Orang baik bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan akan tetapi orang yang baik adalah orang yang sadar akan kesalahannya dan segera bertobat”.

 

 

1 Komentar

  1. fajar said,

    ada hadisnya saba adalah yaman? coba lihat youtube borobudur dan nabi Sulaiman, apa pendapatmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: