Hakekat Perjuangan

Februari 18, 2008 at 3:04 am (Artikel)

perjuangan1.jpg Kehidupan adalah sebuah perjuangan yang tidak boleh mengenal kata lelah dan bosan. Fardhiyatul hayat wa inti’asyuhaa (keniscayaan dan kesegaran hidup) harus ditandai dengan gerakan dan langkah-langkah kebugaran dalam menyemai kemaslahatan. Dan ketika dalam kehidupan seorang manusia sudah tidak nampak lagi tanda-tanda adanya gerakan dan langkah-langkah kemaslahatan, maka manusia itu akan menjadi sakit untuk kemudian menuju kematiannya.
Hidup identik dengan pergerakan dan pergerakan adalah kehidupan yang sebenarnya sementara kematian adalah kemandekan dan kemandekan adalah kematian itu sendiri. Begitu juga dalam kehidupan dakwah dan tarbiyah. dakwah dan tarbiyah baru akan hidup apabila diwarnai oleh gerakan dan langkah-langkah yang dinamis dalam memperjuangkan dan menjaga fikrah da’wiyah serta panji-panji tarbawiyah.
Apabila kita masih ingin dianggap sebagai kader yang hidup dalam bingkai dakwah, maka kita harus berjuang bersama kader-kader lain dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, fanatisme dan riya yang mana dari mereka yang berperang di jalan Allah?
Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang berperang karena meninggikan kalimat Allah, dialah yang berperang di jalan Allah.”(Muttafaqun Alaih)
Karena tanpa adanya keikhlasan dalam pergerakan, perjuangan dan langkah dakwah yang kita lakukan akan sia-sia. Oleh karena itu dalam berjuang disyaratkan adanya bekal ta’abudy. paling tidak harus ada kebugaran sebelum melangkah ke medan perjuangan ; kebugaran ruhy, kebugaran ilmy dan kebugaran jasadi. Dan kebugaran yang kita miliki ini, kita gunakan sebagai modal untuk mendukung perajuangan yang telah digariskan oleh lembaga tinggi dan tertinggi dakwah tanpa adanya kecurigaan, penolakan dan malas-malasan. Hendaknya kita hanya mengatakan : “sami’naa wa atha’naa” selama keputusan dan kebijakan yang digariskan tidak menyalahi aturan dan hukum Allah SWT.
Perjuangan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dakwah dan tarbiyah sangatlah beragam dan berjenjang. Imam Asy-Shahid berkata dalam salah satu rukun bai’at” Tingkat pertama adalah inkarul qalb (mengingkari kemaksiatan dan kezholiman) dengan menolak dan yang paling tinggi adalah qital (perang fisik) di jalan Allah. Dan diantara keduanya ada jihad lisan, jihad qalam, jihad bilyad dan kalimatulhaq di hadapan penguasa yang zholim.
Termasuk kedalam kategori perjuangan dan jihad adalah bekerja untuk menegakkan keadilan, memperbaiki tatanan masyarakat, menolong rakyat yang terzholimi dan menolak pemerintahan yang berlaku lalim.
Rasulullah SAW bersabda ” Sebaik-baik jihad adalah kalimat adil (haq) di hadapan sultan atau amir yang lalim. (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud). “Tuan para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthalib dan seorang laki-laki yang berdri (berjalan) menuju pemimpin yang lalim, ia berseru melarang dan kemudian terbunuh.”(HR Al-haitsamy).
Akhirnya mari kita renungkan beberapa firman Allah berikut ini;
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepadaNya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 9:38-39)
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ( QS. 9:41)
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang, sementara mereka tidak mempunyai uzur) dengan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihada di atas orang-orang yang duduk satu deraja. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihada atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari padaNya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Panyayang. (QS. 4:95-96)
Apakah kita hanya berdiam diri tidak berbuat sesuatu apapun sementara saudara-saudara kita semuanya menghambur ke medan jihad dengan suka cita karena pilihanya ihdal husnayain, satu diantara dua kebaikan isy azizan aw mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). kita tentunya tak ingin disifatkan seperti bani Israil kaumnya Nabi Musa as yang berkata kepada nabinya ” idzhab anta warabbuka (pergilah Anda dan Tuhan Anda, kami di sini saja duduk-duduk menunggu)”.
Bahkan sebaliknya, kita bertekat mengikuti jejak para sahabat Rasulullah SAW yang senantiasa mengikuti perjuangan Rasulullah di dalam peperangan yang sesulit apapun. Kita mengenang dalam sirah kisah sahabat-sahabat yang dijuluki Al-Bakaain (orang-orang yang menangis) karena tidak memiliki kuda dan perbekalan untuk mengikuti perang Tabuk, sementara hati mereka sangat ingin. Saat itu pasukan muslimin sampai dijuluki jaisyul usrah (pasukan sulit) sampai Rasulullah membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa pahala meraka yang tertinggal mengikuti kemanapun pasukan itu bergarak menaiki bukit dan menuruni lembah.
Begitu pula dengan Abu Thalhah yang bermunajat sampai menangis tatkala menghadapi dilema, apakah ikut perang bersama Rasulullah ataukah tinggal dan menunggui istrinya Ummu Sulaim yang sedang hamil tua dan akan melahirkan. “Ya Allah, tak ada satu perjuangan pun bersama Rasulullah yang tidak kuikuti, aku selalu merindukan untuk berjuang di sisinya. Dan kini panggilan jihad tengah berkumandang, aku bimbang karena istriku tengah hamil tua dan menunggu saat melahirkan”. Munajad lirih Abu Thalhah itu terdengar oleh sang istri yang shalihah, ia juga memiliki militansi, ruhul jihad yang tak kalah dengan suaminya, karena itu ia segera menyemangati suaminya, “Ya suamiku janganlah engkau bimbang karena bearat mimikirkan diriku. aku akan ikut berangkat ke medan perang menemani dirimu!”. Subhanallah
Atau kisah heroik Hamzholah yang meninggalkan ranjang pengantinnya karena mendengar panggilan jihad. Jenazahnya yang shahid ternyata bersimbah air, Rasulullah tersenyum dan berkata “Malaikat memandikan jenazah Hamzholah karena ia dalam keadaan junub ketika shahid”. Bayangkan sebagai pengantin baru ia rela meninggalkan istrinya sementara mereka dalam keadaan jima’.
Tidakkah kita tergerak untuk menghayati hakekat perjuangan ini dan mengikuti jejak langkah perjuangan mereka semua. Marilah kita bergerak dan terus berjuang Allah bersama kita Allahu Akbar!

1 Komentar

  1. ARU said,

    sering kita mendengar arti perjuangan, kata2 itu tidak asing lagi ditelinga kita,namun perjuangan itu sendiri mampukah kita untuk mewujudkannya dalam semua llini kehidupan,kita tidak memilih perjuangan apa yang harus dilakukan tetapi perjuangan yang menjadi dasar sekali adalah perjuangan menegakkan yang ma’ru melarang yang mungkar.
    hidup ini tidak akan berarti kalau seandainya makna perjuangan diimplementasikan kepada berbuat sesuatu yang mungkar,sebagai contoh ketika seseorang diberi wewenang untuk menjadi pemimpin berarti itu adalah amanah yang sangat besar sekali,oleh karena itu jangan pernah jadikan jabatan tersebut disalah gunakan untuk memperjuangkan kepentingan pribadi, dengan kata lain melakukan manipulasi (menyalahgunakan jabatan) yang tidak sesuai norma-norma yang berlaku.
    begitu juga dengan dengan segala aktifitas manusia perjuangan harus bermodalkan 4 dimensi yaitu :
    1. iman
    dengan iman manusia bisa sadar dan tidak akan sanggup untuk berbuat yang dilarang oleh agama dan aturan yang berlaku.
    2. ilmu
    ilmu merupakan pengetahuan yang bersifat ilmiah, kalau kita melakukan perbuatan yang keluar dari aturannya berarti kita telah menjatuhkan diri kita sendiri (cacat) dari segi keilmuan.
    3. amal
    mewujudkan perilaku kedalam kategori rutinitas yang ideal sesuai dengan tuntutan ilmu tersebut.
    4. tawakal
    jenjang yangn paling terakhir adalah tawakal berarti kita telah berbuat sesuai dengan jalannya. hal ini identik dengan berserah diri akhir dari usaha manusia itu sendiri.
    pembentukan pola manusia yang seimbang karakterristiknya akan lebih berkembang jika itu benar-benar terwujud dalam kehidupannya. maka perjuangan yang sejati adalah perjuangan yang paling dirihdoi oleh tuhan yang maha kuasa.
    kehadiran kita dipermukaan bumi selalu menjadi rahmat semesta alam… amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: