<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Runi@ Ridh@ Glob@l</title>
	<atom:link href="http://runia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://runia.wordpress.com</link>
	<description>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran : 102)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 03:42:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='runia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Runi@ Ridh@ Glob@l</title>
		<link>http://runia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://runia.wordpress.com/osd.xml" title="Runi@ Ridh@ Glob@l" />
	<atom:link rel='hub' href='http://runia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Asy-Syaja’ah (Keberanian)</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2009/05/27/asy-syaja%e2%80%99ah-keberanian/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2009/05/27/asy-syaja%e2%80%99ah-keberanian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 03:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Asy-syaja’ah (keberanian) adalah salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme).Jadi orang yang istiqamah akan senantiasa berani, tenang dan optimis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah. Namun memang tak mudah untuk menjadi orang yang istiqamah atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=67&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Asy-syaja’ah (keberanian) adalah salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme).<span id="more-67"></span>Jadi orang yang istiqamah akan senantiasa berani, tenang dan optimis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah.<br />
Namun memang tak mudah untuk menjadi orang yang istiqamah atau teguh pendirian memegang nilai-nilai kebenaran dan senantiasa berada di jalan Allah. Bahkan Rasulullah saw. mengatakan bahwa turunnya surat Hud membuat beliau beruban karena di dalamnya ada ayat (QS. Huud [11]: 112) yang memerintahkan untuk beristiqamah,<br />
&#8220;Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.&#8221;<br />
Rasulullah saw. memahami benar makna istiqamah yang sesungguhnya sampai ketika Abu Sufyan bertanya hal terpenting apa dalam Islam yang membuatnya tak perlu bertanya lagi, beliau menjawab, &#8220;Berimanlah kepada Allah dan kemudian beristiqamahlah (terhadap yang kau imani tersebut)&#8221;.<br />
Di kesempatan lain, Rasulullah saw. juga mengatakan tantangan buat orang yang istiqamah memegang Islam di akhir zaman, begitu berat laksana menggenggam bara api.<br />
Keberanian untuk tetap istiqamah walau nyawa taruhannya nampak pada diri orang-orang beriman di dalam surat Al-Buruuj (QS. 85) yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya kepada Allah Taala.<br />
Begitu pula Asiah, istri Fir’aun dan Masyitah, pelayan Fir’aun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun.<br />
Demikian sulitnya untuk mempertahankan keistiqamahan di jalan Allah, dan demikian sulit pula untuk mewujudkan asy-syaja’ah sebagai salah satu aspeknya.<br />
Secara manusiawi seseorang memang memiliki sifat khauf (takut) sebagai lawan sifat asy-syaja’ah. Namun sifat khauf thabi’i (alamiah) yang diadakan Allah di dalam diri manusia sebagai mekanisme pertahanan diri seperti takut terbakar, tenggelam, terjatuh dimangsa binatang buas, harus berada di bawah khauf syar’i yakni takut kepada Allah Ta’ala. Hal tersebut secara indah dan heroik terlihat gamblang pada kisah Nabi Musa a.s, Ibrahim a.s dan Muhammad saw.<br />
Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke Laut Merah teratasi oleh ketenangan, optimisme dan keberanian Nabi Musa a.s yang senantiasa yakin Allah bersamanya dan akan menunjukinya jalan. Dan benar saja Allah memberinya jalan keluar berupa mukjizat berupa terbelahnya Laut Merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa dilalui oleh Nabi Musa dan pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya.<br />
Kisah yang tak kalah mencengangkannya terlihat pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim a.s. Rasa takut thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut syar’i yakni takut kepada Allah saja. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang dengan perintah Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.<br />
Keberanian, ketawakalan dan kepasrahan pada Allah yang membuahkan pertolongan-Nya juga terlihat pada saat Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabat setianya Abu Bakar Ash-Shidiq berada di gua Tsur untuk bersembunyi dalam rangka strategi hijrah ke Yatsrib (Madinah).<br />
Kaki-kaki musuh yang lalu lalang tidak menggetarkan Rasulullah dan ketika Abu Bakar begitu mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah SAW, beliau menenangkannya dengan berkata, &#8220;Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita&#8221; (QS 9: 40). Dan ternyata terbukti Allah Ta’ala memberikan pertolongan melalui makhluk-makhluk-Nya yang lain. Burung merpati yang secara kilat membuat sarang, begitu pula laba-laba di mulut gua, membuat musyrikin Quraisy yang mengejar yakin gua itu tak mungkin dilalui oleh manusia.<br />
Realita Dewasa Ini<br />
Dunia dewasa ini dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki sifat pengecut. Sebuah hadits Nabi saw. memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Ya, penyakit wahn-lah yang menyebabkan di antara umat Islam pun banyak yang menjadi pengecut sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya yakni kaum kufar dan musyrikin.<br />
Dahulu yang membuat gentar musuh-musuh Islam adalah keberanian tentara-tentara pejuang-pejuang Islam yang menghambur ke medan perang dengan suka cita karena pilihannya sama-sama baik yakni hidup mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah.<br />
Sementara kini umat Islam terpenjara oleh dunia, begitu cinta dan tertambat pada kenikmatan dunia sehingga begitu takut akan kematian yang dianggap sebagai pemutus kelezatan dan kenikmatan dunia.<br />
Begitu banyak orang yang tidak memiliki daya tahan tinggi terhadap segala tantangan dan kesulitan sehingga mudah surut, menyerah atau berputus-asa. Padahal dalam kehidupan yang semakin berat dan sulit dewasa ini begitu banyak tantangan dan marabahaya yang harus disikapi dan dihadapi dengan berani, karena bersikap pengecut dan melarikan diri dari persoalan hidup yang berat tidak akan pernah menyelesaikan masalah.<br />
Kemudian banyak pula orang yang tidak berani bersikap jujur atau berterus terang terhadap diri sendiri termasuk menyadari kekurangan, kelemahan dan keterbatasan diri. Dan sebaliknya berani mengakui kelebihan, kekuatan dan kemampuan orang lain.<br />
Seorang pengecut biasanya juga tak akan mau mengakui kesalahan. Bersikap keras kepala, mau menang sendiri dan menganggap diri tak pernah berbuat salah sebenarnya justru akan menguatkan kepengecutan seseorang yang berlindung dibalik semua sikap tersebut.<br />
Sikap pengecut lainnya adalah tidak mampu bersikap obyektif terhadap diri sendiri yakni berani menerima kenyataan bahwa ada posisi negatif dan positif dalam dirinya.<br />
Dan akhirnya sifat kepengecutan yang jelas adalah ketidakmampuan menahan nafsunya di saat marah. Salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain (QS. 3:134). Yang disebut orang kuat adalah orang yang mau menahan dan meredam amarahnya serta tetap bisa mengendalikan dirinya di saat marah sekalipun.<br />
Jika seseorang bertindak brutal dan mengeluarkan caci maki serta kata-kata kotor, ia justru masuk kategori orang yang pengecut karena tak mampu mengendalikan diri dan menahan marah.<br />
Macam-macam Syaja’ah<br />
Syaja’ah atau pemberani/kesatria tentu saja berbeda dengan bersikap nekat, &#8220;ngawur&#8221; atau tanpa perhitungan dan pertimbangan. Asy-syaja’ah adalah keberanian yang didasari pertimbangan matang dan penuh perhitungan karena ingin meraih ridha Allah. Dan untuk meraih ridha Allah, tentu saja diperlukan ketekunan kecermatan dan kerapian kerja (itqan). Buka keberanian yang tanpa perhitungan, namun juga bukan terlalu perhitungan dan pertimbangan yang melahirkan ketakutan.<br />
Paling tidak ada beberapa macam bentuk asy-syaja’ah (keberanian), yakni:<br />
1.	Memiliki daya tahan besar<br />
Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.<br />
2.	Berterus terang dalam kebenaran<br />
&#8220;Qulil haq walau kaana muuran&#8221; (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.<br />
3.	Kemampuan menyimpan rahasia<br />
Orang yang berani adalah orang yang bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan terutama dalam persiapan jihad menghadapi musuh-musuh Islam. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk keberanian yang bertanggung jawab.<br />
4.	Mengakui kesalahan<br />
Salah satu orang yang memiliki sifat pengecut adalah tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam dan bersikap &#8220;lempar batu, sembunyi tangan&#8221;<br />
Sebaliknya orang yang memiliki sifat syaja’ah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab.<br />
5.	Bersikap obyektif terhadap diri sendiri<br />
Ada orang yang cenderung bersikap over estimasi terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap under estimasi terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.<br />
6.	Menahan nafsu di saat marah<br />
Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu ber–mujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya.<br />
Contoh Figur Sahabat dan Sahabiyah yang Memiliki Sifat Syaja’ah<br />
Berani karena benar dan rela mati demi kebenaran. Slogan tersebut pantas dilekatkan pada diri sahabat-sahabat dan sahabiyah-sahabiyah Rasulullah saw. karena keagungan kisah-kisah perjuangan mereka.<br />
Rasulullah Muhammad saw. sendiri menjadi teladan utama saat beliau tak bergeming sedikit pun ketika disuruh menghentikan dakwahnya. Beliau pun berucap dengan kata-katanya yang masyhur, &#8220;Walaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan pernah menghentikan dakwahku ini&#8221;.<br />
Keberanian dan keteguhan sikap nampak pula pada diri sepupu dan menantu Nabi saw., Ali bin Abu Thalib r.a. Ali mengambil peran yang sangat beresiko, menggantikan Rasulullah di tempat tidur untuk mengelabui musuh-musuh yang mengepung. Dan benar saja ketika tahu mereka dikelabui, mereka pun marah serta memukuli Ali hingga babak belur.<br />
Khalifah kedua yakni Umar bin Khathab juga sangat terkenal dengan ketegasan sikap dan keberaniannya. Ketika mau hijrah berbeda dengan sahabat-sahabat lain yang sembunyi-sembunyi, Umar malah berteriak lantang, &#8220;Umar mau hijrah, barang siapa yang ingin anak istrinya menjadi yatim dan janda, hadanglah Umar&#8221;.<br />
Keberanian mempertahankan aqidah hingga mati nampak pada Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Beliau menjadi syahidah pertama dalam Islam yang menumbuhsuburkan perjuangan dengan darahnya yang mulia.<br />
Begitu pula Khubaib bin Adiy yang syahid di tiang salib penyiksaan dan Habib bin Zaid yang syahid karena tubuhnya dipotong-potong satu demi satu selagi ia masih hidup. Mereka berani bertaruh nyawa demi mempertahankan akidah dan itu terbukti dengan syahidnya mereka berdua.<br />
Bilal dan Khabab bin Al-Irts, yang mantan budak disiksa dengan ditimpa batu besar (Bilal) dan disetrika punggungnya (Khabab) adalah bukti bahwa keberanian tidak mengenal lapisan dan strata sosial.<br />
Ada pula anak bangsawan seperti Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash yang diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak oleh orangtua mereka karena masuk Islam. Dan akhirnya wanita-wanita perkasa dan pemberani seperti Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw., Nusaibah binti Ka’ab, perisai Rasulullah saw. dan Fatimah, putri Rasulullah saw. yang menjadi bukti wanita tak kalah berani dibandingkan laki-laki dalam mempertahankan kebenaran.<br />
Kiat-kiat Memiliki Sifat Syaja’ah<br />
Dengan segala kesederhanaannya, prajurit muslim Rubyi menemui Panglima besar Persia, Rustum. Pedangnya yang menyembul di pinggangnya menyaruk-nyaruk bentangan karpet mewah Persia yang digelar. Seolah-olah ingin berkata, &#8220;Aku tak butuh dan tak silau oleh semua kemewahan ini&#8221;.<br />
Rubyi bahkan berorasi dengan lantangnya, &#8220;Kami datang untuk membebaskan kalian dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Kami datang untuk membebaskan kalian dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat&#8221;.<br />
Keberanian, yang ditunjukkan Rubyi adalah buah dari keimanan dan ketakwaannya. Karena ia meyakini hanya Allahlah Yang Maha Besar dan patut ditakuti, dan manusia sehebat dan sekaya apapun kecil dibandingkan Allah Yang Agung.<br />
Jadi kiat utama untuk memiliki sifat syaja’ah adalah adanya daya dukung ruhiyah berupa keimanan dan ketakwaan yang mantap. Iman dan takwa ini akan membuat seseorang tidak takut pada apapun dan siapa pun selain Allah.<br />
Kemudian bermujahadah melawan segala rasa takut, cemas dan khawatir yang secara manusiawi ada pada setiap manusia.<br />
Berikutnya bisa pula dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saat menasihati Khabbab bin Harits yang berkeluh kesah atas beratnya penderitaan yang dialaminya, beliau mengingatkan Khabbab akan perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu yang jauh lebih berat tapi mereka tetap berani dan tabah. Jadi kita bisa memupuk keberanian dan kesabaran dengan berkata, &#8220;Ah&#8230; cobaan ini belum seberapa dibanding yang pernah dialami orang-orang shaleh terdahulu&#8221;.<br />
Dan akhirnya kejelasan misi dan visi perjuangan serta senantiasa mengingat-ingat imbalan optimal berupa ampunan dan surga-Nya kiranya akan memperbesar keberanian dan semangat juang, insya Allah. Wallahu a’lam.</p>
<br />Posted in Artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=67&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2009/05/27/asy-syaja%e2%80%99ah-keberanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUASA YANG SEMPURNA</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/09/11/puasa-yang-sempurna/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/09/11/puasa-yang-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 05:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Petunjuk puasa dari Nabi shallallahu &#8216;ala ihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, paling mengena dalam mencapai maksud, serta paling mudah penerapannya bagi segenap jiwa. Di antara petunjuk puasa dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pada bulan Romadhon adalah Memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Malaikat Jibril senantiasa membacakan Al-Qur&#8217;anul Karim untuk beliau pada bulan Romadhon; beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=61&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Petunjuk puasa dari Nabi <em>shallallahu &#8216;ala ihi wasallam</em> adalah petunjuk yang paling sempurna, paling mengena dalam mencapai maksud, serta paling mudah penerapannya bagi segenap jiwa. Di antara petunjuk puasa dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pada bulan Romadhon adalah Memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah.</span><span id="more-61"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Malaikat Jibril senantiasa membacakan Al-Qur&#8217;anul Karim untuk beliau pada bulan Romadhon; beliau juga memperbanyak sedekah, kebajikan, membaca Al-Qur&#8217;anul Karim, shalat, dzikir, i&#8217;tikaf dan bahkan beliau mengkhususkan beberapa macam ibadah pada bulan Romadhon, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> menyegerakan berbuka dan menganjurkan demikian, beliau makan sahur dan mengakhirkannya, serta menganjurkan dan memberi semangat orang lain untuk melakukan hal yang sama. Beliau menghimbau agar berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya maka dengan air.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan caci-maki. Sebaliknya beliau memerintahkan agar ia mengatakan kepada orang yang mencacinya, &#8220;Sesungguhnya aku sedang puasa.&#8221; </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Jika beliau  melakukan perjalanan di bulan Romadhon, terkadang beliau meneruskan puasanya dan terkadang pula berbuka. Dan membiarkan para sahabatnya memilih antara berbuka atau puasa ketika dalam perjalanan. Beliau shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah mendapatkan fajar dalam keadaan junub sehabis menggauli isterinya maka beliau segera mandi setelah terbit fajar dan tetap berpuasa. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Termasuk petunjuk Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah membebaskan dari qadha&#8217; puasa bagi orang yang makan atau minum karena lupa, dan bahwasanya Allahlah yang memberinya makan dan minum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Dan dalam riwayat shahih disebutkan bahwa beliau bersiwak dalam keadaan puasa. Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> menuangkan air di atas kepalanya dalam keadaan puasa. Beliau juga melakukan istinsyaq (menghiup air ke dalam hidung) serta berkumur dalam keadaan puasa. Tetapi beliau melarang orang berpuasa melakukan istinsyaq secara berlebihan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Puasa tidak sempurna kecuali dengan merealisasikan enam perkara: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;">Menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;">Menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing, mengadu domba dan dusta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;">Menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang tercela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;">Menjaga anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;">Hendaknya tidak memperbanyak makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;"></span><span style="color:black;">Setelah berbuka, hendaknya hatinya antara takut dan harap. Sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima </span></p>
<p><!--[if !supportLists]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak, sehingga ia termasuk </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">orang-orang yang dimurkai. Hal yang sama hendaknya ia lakukan pada setiap selesai melakukan ibadah.</span></p>
<p style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">Ya Alloh, jadikanlah kami dan segenap umat Islam termasuk orang yang puasa pada bulan ini, yang pahalanya sempurna, yang mendapatkan Lailatul Qadar, dan beruntung menerima hadiah dari Tuhan; wahai Dzat Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, keluarga dan segenap sahabatnya.</span></p>
<p>(Sumber Rujukan: Zaadul Ma&#8217;ad fi Hadyi Khairil &#8216;Ibaad, I/320-338 dan Mau&#8217;idzatul Mukminiin min Ihyaa&#8217;i Uluumid Diin, hlm. 59-60)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=61&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/09/11/puasa-yang-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar Dengan Takdir Alloh</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/sabar-dengan-takdir-alloh/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/sabar-dengan-takdir-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 07:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Disusun Oleh: Tim Bulletin At-Tauhid Para pembaca yang budiman, sabar adalah kata yang mudah dan sering diobral manusia. Terlebih lagi ketika ada seseorang yang terkena musibah. Akan tetapi, belum tentu orang yang mengatakan tersebut bisa bersabar yang terkena musibah. Mudah di lisan berat dipraktekkan, itulah untuk sabar. Bahkan tidak jarang ada yang sampai mencela Alloh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=56&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->Disusun Oleh: Tim Bulletin At-Tauhid</p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, sabar adalah kata yang mudah dan sering diobral manusia. Terlebih lagi ketika ada seseorang yang terkena musibah. Akan tetapi, belum tentu orang yang mengatakan tersebut bisa bersabar yang terkena musibah. Mudah di lisan berat dipraktekkan, itulah untuk sabar. Bahkan tidak jarang ada yang sampai mencela Alloh. Padahal semua takdir Alloh itu baik dan pasti didasari dengan keadilan dan hikmah-Nya. Hanya saja jika takdir ditinjau dari sudut pandang orang yang ditimpa takdir tersebut, ada takdir yang baik dan ada yang buruk.<span id="more-56"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kaitan Sabar Dengan Tauhid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang telah meyakini bahwa musibah itu terjadi dengan izin Alloh dan dibalik takdir tersebut tersimpan hikmah yang agung, maka dia akan ridho dengan keputusan Alloh dan berserah diri kepada-Nya. Ia juga akan bersabar atas musibah tersebut dalam rangka mengharap pahala dari Alloh. <span lang="FI">Akhlaknya semakin baik dan hatinya semakin tenang serta iman dan tauhidnya semakin kuat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Imam ahmad mengatakan, “Sabar disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak lebih dari 70 ayat. Kaitan sabar dan iman seperti halnya kedudukan kepala dan jasad… Seorang yang tidak sabar dalam melaksanakan ketaatan, dalam menjauhi kemaksiatan serta ketika tertimpa musibah maka ia sudah kehilangan sebagian besar dari imannya.” </span>(<em>At Tamhid</em>: 391)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alloh Tidak Pernah Salah Dalam Menempatkan Musibah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bersama bahwa Alloh tidak akan pernah salah di dalam menempatkan musibah, kepada siapa, kapan dan dampak yang ditimbulkannya. Alloh berfirman, <em>“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”</em> (At Taghobun: 11)</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap musibah yang menimpa seseorang baik berkaitan dengan jiwa, harta atau yang lain pasti berasal dari takdir Alloh yang tidak akan bisa terelakkan. Barang siapa membenarkan dan yakin bahwa seluruh musibah itu datangnya dari Alloh maka Alloh akan memberikan taufik kepadanya untuk rela dengan musibah tersebut dan merasa tenang atas musibah tersebut karena meyakini adanya hikmah Alloh yang agung di balik itu semua. Hal ini karena ia meyakini bahwa Allohlah yang paling tahu yang terbaik bagi hambaNya. Oleh karena itu, saudara-saudara yang budiman, ungkapan <em>‘takdir memang kejam’</em> adalah ungkapan yang sangat kejam. Ungkapan semacam ini tidaklah keluar kecuali dari orang-orang yang lemah iman. <span lang="FI">Semoga Alloh memperbaiki keadaan kaum muslimin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Iman dan Kekufuran Punya Cabang</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saudara-saudara yang budiman, sesungguhnya sabar adalah cabang keimanan karena tidak sabar di dalam menerima taqdir Alloh merupakan salah satu cabang kekufuran. Rosululloh <em>Sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> besabda, <em>“Ada dua perkara yang masih dilakukan orang, padahal keduanya adalah bentuk kekufuran, yaitu mencela keturunan dan meratapi orang yang telah meninggal.”</em> (Muslim). Lawan dari cabang kekufuran adalah cabang keimanan. Karena meratapi mayit adalah cabang kekufuran maka lawannya yaitu sabar menghadapi musibah adalah cabang keimanan</p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Saudara-saudara sekalian, sabar ialah menahan hati dari marah, menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan haram. Meratapi mayit adalah bentuk ketidaksabaran karena tidak menahan lisan dari ratapan. Dua hal yang disebutkan dalam hadits adalah adat jahiliyah, tetapi rosul telah mengabarkan bahwa kebiasaaan tersebut akan menurun pada umatnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Menahan Anggota Badan Dari Menampakkan Kemarahan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh <em>Sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”</em> (Muttafaq alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, marilah kita mencoba untuk memperhatikan hadits di atas bagaimana Islam mengajarkan akhlak yang baik tatkala mendapat musibah. Seorang muslim dilarang untuk mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap takdir buruk yang menimpanya, terlebih lagi seperti adat jahiliyah. <span lang="FI">Perbuatan seperti ini bukanlah dari Islam sama sekali.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Musibah Adalah Bukti Kecintaan Alloh</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh <em>Sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka disegerakan hukuman baginya di dunia. Sebaliknya apabila Alloh menghendaki keburukan pada seseorang maka ditangguhkan dosanya sampai dipenuhi balasannya di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)</p>
<p style="text-align:justify;">Alloh menimpakan musibah kepada hamba-Nya yang mukmin untuk membersihkan dosa dan kesalahannya, sehingga di hari akhir kelak beban keburukannya berkurang. Adapun orang yang tidak Alloh timpakan musibah padanya tatkala di dunia tidaklah bisa diambil kesimpulan bahwa Alloh cinta atau memuliakannya tapi mungkin saja hal ini merupakan <em>istidroj</em> ketika ia hidup sehingga ketika di hari akhir menjadikan dosa dan timbangan amal buruknya makin besar. Alloh memberikan nikmat kepada siapapun dan menghalanginya dari siapapun. Alloh tidak ditanya tentang yang Dia perbuat tapi manusia lah yang akan ditanya tentang yang diperbuatnya. <span lang="FI">Bencana kepada mukmin adalah tanda kebaikan sepanjang bukan musibah agama meninggalkan kewajiban dan melaksanakan keharaman.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ridho Diganjar Dengan Ridho, Marah Diganjar Dengan Marah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Reaksi seseorang ketika tertimpa musibah itulah yang akan menentuan penilaian Alloh terhadapnya. Rosululloh <em>Sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, <em>“Sesungguhnya besar pahala berbanding lurus dengan besar cobaan. Apabila Alloh mencintai suatu kaum, maka Alloh uji mereka. Barang siapa yang ridho maka baginya keridhoan Alloh dan barang siapa yang marah maka baginya kemarahan Alloh.”</em> </span>(HR. Tirmidzi)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak Ada Yang Bisa Menghalangi Takdir Alloh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, sesunguhnya tidak ada gunanya berteriak-teriak karena itu tidak akan menghilangkan musibah. Mencela Alloh juga tidak akan membuat Alloh mengurungkan keputusanNya, bahkan akan mendatangkan murkaNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh <em>Sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah seandainya seluruh orang bersepakat untuk memberikan kebaikan kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikannya kecuali dengan yang memang sudah ditakdirkan Alloh untukmu. Sebaliknya seandainya mereka bersepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu maka mereka tidak akan dapat mencelakaaknmu keculi dengan yang memang telah Alloh takdirkan atasmu.”</em> (HR. Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan shohih)</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saudara-saudara yang budiman, karena kebaikan yang didapatkan itu dari Alloh, maka hendaknya kita semua menggantungkan seluruh harapan kepada Alloh dan tidak berpaling kepada makhluk. <em>Wallohu a’lam.</em> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=56&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/sabar-dengan-takdir-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Beramar Makruf Nahi Munkar</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/bagaimana-beramar-makruf-nahi-munkar/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/bagaimana-beramar-makruf-nahi-munkar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 07:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Fatah Amrullah Ketika mendengar ungkapan “amar makruf nahi munkar”, mungkin gambaran kita akan tertuju pada orang-orang “ekstrim garis keras” yang menghancurkan tempat-tempat kemaksiatan. Bagaimana sebenarnya syariat Islam mengatur masalah amar makruf nahi munkar? Apa saja adab yang harus dipenuhi dalam ibadah yang agung ini? Insya Alloh dalam kesempatan kali ini kita akan membahas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=52&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><br />
<span lang="FI">Penulis: Abu Fatah Amrullah</span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mendengar ungkapan “amar makruf nahi munkar”, mungkin gambaran kita akan tertuju pada orang-orang “ekstrim garis keras” yang menghancurkan tempat-tempat kemaksiatan. Bagaimana sebenarnya syariat Islam mengatur masalah amar makruf nahi munkar? Apa saja adab yang harus dipenuhi dalam ibadah yang agung ini? Insya Alloh dalam kesempatan kali ini kita akan membahas sedikit tentang adab dan etika dalam beramar makruf nahi munkar.<span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perintah Berdakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca <em>rohimakumulloh</em>, agama Islam telah mensyariatkan kepada para pemeluknya untuk menegakkan amar makruf nahi munkar, yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”</em> (QS. Ali Imron: 104)</p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemunkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.”</em> (HR. Muslim). Oleh karena itu, perlulah kita mengetahui sebagian bekal yang harus dimiliki dalam beramar makruf nahi munkar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ikhlaskan Niat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adab pertama dan yang paling agung dalam beramar makruf nahi munkar serta dalam seluruh ibadah lainnya adalah ikhlas. <span lang="FI">Tujuan amar makruf yang kita lakukan adalah hanya untuk Alloh semata. Bukan karena riya agar dilihat dan didengar oleh manusia atau menunjukkan kekuatan di hadapan orang lain. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”</em> (QS. An Nahl: 125), demikian juga Alloh berfirman yanga artinya, <em>“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata.’”</em> </span>(QS. Yusuf: 108)</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara tanda keikhlasan dalam berdakwah dan beramar makruf nahi munkar adalah kita mendoakan orang yang kita dakwahi dengan kebaikan. Jika kita benar-benar mengikhlaskan niat kita dalam berdakwah, maka dengan izin Alloh, dakwah akan menghasilkan buah yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berbekal Ilmu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap da’i yang akan beramar makruf nahi munkar hendaklah berbekal dengan ilmu. Hal ini bukan berarti bahwa yang memiliki kewajiban untuk berdakwah dan beramar makruf nahi munkar hanyalah seorang ulama. Bukan demikian maksudnya. Jumlah ulama yang ada sedikit, sedangkan kemunkaran begitu banyaknya. Terkait dengan kewajiban amar makruf nahi munkar, para ulama telah membagi ilmu menjadi 2 bagian.</p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pertama, ilmu yang <em>fardhu ‘ain</em>. </span>Setiap orang yang mengaku beragama Islam harus mengetahuinya dan tidak boleh bodoh tentang hal tersebut. Misalnya tentang tauhid dan syirik, kewajiban sholat lima waktu dan lain sebagainya. Jika kita melihat ada saudara kita yang melakukan perbuatan syirik dengan pergi ke dukun untuk menanyakan suatu yang gaib maka wajib bagi kita untuk mencegahnya. <span lang="FI">Jika kita melihat saudara kita tidak mengerjakan sholat lima waktu, maka kita wajib untuk memerintahkannya. Maka menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk beramar makruf nahi munkar dengan apa yang dia ketahui.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, ilmu yang bersifat <em>fardhu kifayah</em>. Seperti ilmu-ilmu tentang syariat Islam yang detail dan terperinci. Maka wajib bagi orang yang memiliki ilmu tentang hal ini untuk beramar makruf nahi munkar jika dia melihat pelanggaran di dalamnya. Misalnya ilmu yang terkait dengan pembagian harta warisan. Jika kita mengetahui adanya kesalahan dalam pembagian harta warisan, maka wajib bagi orang yang mengetahuinya untuk meluruskan kekeliruan tersebut. <span lang="FI">Pada prinsipnya setiap orang wajib untuk senantiasa menuntut ilmu agama. Kemudian mendakwahkannya sesuai dengan apa yang dia ketahui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Beramal Dengan Ilmu Yang Dimiliki</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hendaklah kita menjadi orang yang bersegera melakukan kebaikan yang telah kita perintahkan kepada orang lain dan hendaklah kita menjadi orang yang bersegera menjauhi keburukan yang telah kita larang. Alloh Ta’ala sangat membenci orang yang tidak melakukan apa yang telah dikatakannya. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”</em> (QS. Ash Shaff: 3)</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa kemunkaran yang dilakukan oleh seseorang bukan penghalang baginya untuk mencegah orang lain dari kemunkaran tersebut. Seorang yang bermaksiat dengan meminum khomer maka bukan berarti dia tidak boleh melarang orang untuk meminum khomer. Demikian juga seorang yang meninggalkan kebaikan bukan berarti dia tidak boleh memerintahkan orang untuk mengerjakan kebaikan tersebut. Seorang lelaki yang meninggalkan sholat jama’ah misalnya, hal ini bukan berarti dia tidak boleh memerintahkan orang lain untuk sholat berjamaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendaknya bagi seorang da’i untuk senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengamalkan apa yang telah dia dakwahkan. Janganlah berprasangka jika seorang da’i bermaksiat pada Alloh dalam hal ini, hal tersebut tidak memberikan pengaruh dalam dakwahnya!!! Alloh telah mengatakan bahwa, <em>“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”</em> (QS. Ash Shaff: 3). Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dakwah dari orang yang telah Alloh benci dengan kebencian yang sangat besar seperti ini??</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dengan Lemah Lembut Dan Kasih Sayang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah salah satu adab yang banyak dilupakan oleh orang yang beramar makruf nahi munkar. Sehingga muncullah kesan bahwa amar makruf nahi munkar adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang keras dan tidak punya rasa kasih sayang. Inilah hukum asal dalam dakwah, yaitu dengan lemah lembut dan kasih sayang. Alloh Ta’ala telah memerintahkan utusan-Nya untuk berdakwah dengan lemah lembut walaupun kepada orang yang terkenal paling bengis. Alloh berfirman ketika memerintahkan Nabi Musa dan Harun <em>‘alaihimassalam</em> untuk mendakwahi Firaun (yang artinya), <em>“Katakanlah oleh kalian berdua kepadanya dengan perkataan yang lembut.”</em> (QS. Thoha: 44). Demikianlah pada awalnya Nabi Musa dan Harun diperintahkan untuk mendakwahi Firaun dengan lemah lembut. Namun ketika tampak adanya penentangan oleh Firaun terhadap dakwah Nabi Musa setelah ditunjukkan kepadanya mukjizat yang dianugerahkan oleh Alloh, maka Nabi Musa <em>‘alaihissalaam</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. </em><em><span lang="FI">Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”</span></em><span lang="FI"> </span>(QS. Al Isra: 102)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dengan Penuh Hikmah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh seorang mukmin haruslah dilandasi dengan hikmah. Maksudnya adalah melakukan dakwah tersebut sesuai dengan tempatnya, dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat kepada orang yang tepat. Demikianlah telah menjadi tuntutan bagi seorang dai untuk berdakwah dengan penuh hikmah. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”</em> (QS. An Nahl: 125). Seorang yang berdakwah dengan Hikmah, perlu memahami perkara yang terkait dengan dakwahnya. Hikmah yang terkait dalam dakwah yang harus diketahui oleh seorang dai adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pertama, memahami dan mengenal tahapan-tahapan dakwah. Tahapan dakwah yang pertama kali harus disampaikan seorang dai adalah masalah tauhid. Hal ini telah ditegaskan oleh Rosululloh <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman, <em>“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari orang-orang Ahli kitab, maka hendaklah engkau jadikan perkara pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka mentauhidkan Alloh (dalam riwayat lain agar mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh)…”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, perlu diperhatikan oleh seorang da’i tentang tahapan-tahapan dakwah yang harus diterapkan pada masing-masing orang. <span lang="FI">Jika ada seseorang yang tidak wajib menunaikan zakat, kemudian dikatakan kepadanya, <em>“Bersedekahlah! Sedekah adalah sebuah kebaikan”</em>. Bagaimana mungkin dia diperintahkan untuk bersedekah sedangkan dia tidak berkewajiban menunaikan zakat? Maka hendaknya kita mengajarkan tentang zakat terlebih dahulu, yang merupakan kewajiban dari Alloh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kedua, memahami kedudukan obyek dakwahnya. Mendakwahi seorang pemimpin dan tokoh masyarakat tidak bisa disamakan dengan mendakwahi teman sendiri. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ketiga, memahami dan mengilmui perintah dan larangan yang hendak dia seru. Dengan kata lain, seorang yang beramar makruf nahi munkar, haruslah memiliki ilmu. Orang yang beramar makruf nahi munkar tanpa disertai dengan ilmu akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Keempat, memahami dan mampu mempertimbangkan antara manfaat dan maslahat dalam beramar makruf nahi munkar. Jangan sampai amar makruf dan nahi munkar yang kita lakukan justru malah menambah kemunkaran menjadi lebih besar. Imam Ibnu Qoyyim telah bercerita tentang guru beliau, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam menerapkan kaidah ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berjumpa dengan orang Tartar yang sedang mabuk-mabukan di jalan umum secara terang-terangan di hadapan manusia. Maka sahabat-sahabat beliau berkata, <em>“Mari kita ingkari mereka yang sedang mabuk-mabukan ini, mereka meminum khomer di hadapan kita!!”</em> Syaikhul Islam berkata, <em>“Wahai saudaraku, biarkanlah mereka. Sesungguhnya Alloh melarang meminum khomer karena dapat melalaikan dari sholat dan mengingat Alloh. Sedangkan, jika mereka meminum khamar akan mencegah mereka dari menganiaya dan membunuh kaum muslimin”</em>. Demikianlah dapat kita lihat bagaimana beliau mampu menimbang antara <em>maslahat</em> dan <em>mafsadat</em> dalam beramar makruf nahi munkar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sabar Dalam Berdakwah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang dai harus memiliki sifat sabar. Jika ada suatu hal yang menyakiti jiwanya maka dia harus bersabar serta mengharapkan seluruh urusannya hanya pada Alloh. Dengan kesabarannya, dia akan diberikan ganjaran sebagaimana dia diberi ganjaran atas dakwah yang dia lakukan. Demikianlah, Alloh Ta’ala telah memerintahkan para utusan-Nya untuk senantiasa bersabar terhadap gangguan yang datang dari kaum mereka. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Maka bersabarlah kamu seperti para ulul azmi dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.”</em> (QS. Al Ahqaaf: 35). Alloh juga berfirman yang artinya, <em>“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.”</em> (QS. Ar Ruum: 60)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memiliki Ketegasan dan Keteguhan di Atas Kebenaran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang dai haruslah memiliki sikap yang tegas dalam dakwahnya. Sikap tegas seorang dai dalam beramar makruf nahi munkar, bukanlah menandakan bahwa dia harus bersikap kaku. Namun jika perbuatan haram telah dilanggar, ayat-ayat Alloh diperolok-olokkan dan manusia berbuat maksiat secara terang-terangan, maka seorang dai harus bersikap tegas dengan tidak bercampur baur dengan orang-orang seperti ini. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala yang artinya, <em>“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. </em><em><span lang="FI">Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.”</span></em><span lang="FI"> (QS. An Nisa: 140)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Berdasarkan ayat ini, para ulama telah mengambil kesimpulan bahwa orang yang ridho dengan perbuatan dosa sama dengan orang yang berbuat dosa tersebut walaupun dia tidak melakukannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Pantang Menyerah dan Tidak Putus Asa</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Salah satu sikap yang penting dalam beramar makruf nahi munkar adalah tidak mudah berputus asa. Berilah nasihat terus-menerus kepada orang lain. Jika tidak cukup sekali maka kita nasihatkan dua kali, tiga kali dan seterusnya. Jika seorang dai yang beramar makruf nahi munkar mudah berputus asa, maka kerusakan yang ditimbulkannya akan semakin tersebar. Alloh Ta’ala telah menceritakan kisah dakwah seorang utusan-Nya, Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em>. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.”</em> (QS. Al Ankabuut: 14)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Demikianlah, Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> telah berdakwah di tengah kaumnya selama 950 tahun. Namun berapakah kaum Nabi Nuh yang menerima seruan beliau?? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span lang="FI">“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”</span></em><span lang="FI"> (QS Huud: 40) </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jumlah kaum beliau yang beriman dengan dakwah beliau selama 950 tahun hanyalah 12 orang. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak sama sekali. Karena kewajiban beliau adalah berdakwah dan beliau tidak dituntut untuk melihat hasil dakwah beliau. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.”</em> (QS. Ar Ra’du: 40)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kewajiban seorang da’i adalah untuk menyampaikan dakwah, untuk memerintahkan kepada mereka kebaikan dan mencegah kemunkaran. <em>“Dan kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka.”</em> (QS Al An’aam: 52)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="FI">(Disarikan dari transkrip ceramah Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Arab Saudi, pada hari Sabtu 13 Rabi’utstsani 1424 H dengan berjudul <em>Ahkamul Amri bil Ma’ruf wa Nahyi ‘Anil Munkar</em>)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=52&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/07/18/bagaimana-beramar-makruf-nahi-munkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANFAAT BUAH-BUAHAN UNTUK KESEHATAN DAN PENYEMBUHAN PENYAKIT</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/07/09/manfaat-buah-buahan-untuk-kesehatan-dan-penyembuhan-penyakit/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/07/09/manfaat-buah-buahan-untuk-kesehatan-dan-penyembuhan-penyakit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 02:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[1001 Manfaat Buah-Buahan Buah-buahan memang terbukti banyak sekali manfaatnya. Berikut beberapa jenis buah dan manfaat terkandung. APEL Kombinasi kandungan garam mineral dan pektin dalam apel, serta kandungan asam oksalik pada bayam membentuk substansi unik yang memenuhi dinding-dinding usus dan melalui gerakan kimia ang kuat tapi aman &#8220;melepaskan&#8221; kotoran yang ada di usus besar yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=48&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:justify;"><strong><em>1001 Manfaat Buah-Buahan</em></strong></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em>Buah-buahan memang terbukti banyak sekali manfaatnya. Berikut beberapa jenis buah dan manfaat terkandung</em></strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>APEL </strong><br />
Kombinasi kandungan garam mineral dan pektin dalam apel, serta kandungan asam oksalik pada bayam membentuk substansi unik yang memenuhi dinding-dinding usus dan melalui gerakan kimia ang kuat tapi aman &#8220;melepaskan&#8221; kotoran yang ada di usus besar yang telah mengendap berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Kandungan zat pektin dalam apel juga mampu menurunkan kadar kolesterol dan triglycerides yang mengganggu fungsi jantung.<span id="more-48"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>ALPUKAT</strong><br />
Kandungan kalori, lemak dan minyak yang tinggi di dalamnya tidak saja menjadi sumber enerji yang melimpah yang dibutuhkan pada saat puasa, tapi juga mengurangi kadar kolesterol dan menjaga kelenturan otot-otot sendi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PISANG</strong><br />
Daging buah pisang yang lembut melapisi dinding-dinding lambung dan usus sehingga dapat menjadi lapisan anti radang. Pisang sangat membantu bagi mereka yang mengalami masalah peradangan lambung atau usus. Karena daging buah pisang sangat lembut, dianjurkan untuk tidak dijadikan jus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>BELEWAH</strong><br />
Kandungan beta-karoten, pro-vitamin A, magnesium, mangan, seng dan krom pada belewah dapat mengurangi peradangan dan memulihkan luka peradangan jaringan usus. Gula alami dan enzim yang dikandung belewah mempunyai fungsi absorpsi atau penyerapan pada usus akibat makan tergesa-gesa shingga makanan tak terkunyah dengan baik, terlalu banyak makan makanan yang berbumbu, endapan obat-obatan, atau rasa mual karena rasa kuatir yang berlebihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>JERUK</strong><br />
Sari buah jeruk yang banyak mengandung vitamin C sangat baik karena selain menstimulasi sistem kekebalan tubuh, juga menghilangkan sumbatan lendir di tenggorokan, rongga hidung, paru-paru dan perut. Berguna pula untuk membersihkan liver dan menghilangkan rasa sakit di tubuh akibat influenza. Campuran sari jeruk nipis dan madu sangat berkhasiat menyembuhkan radang tenggorokan dan amandel. Bagi mereka yang memiliki gangguan lambung, tentu pilih buah jeruk yang tidak terlalu asam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>KURMA</strong><br />
Kandungan gula kurma yang tinggi membuat kurma menjadi buah yang menghasilkan energi tinggi. Bahkan ada legenda bahwa Nabi Muhammad SAW berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma, tentunya yang berkualitas tinggi. Kandungan gula kurma sangat membantu menyembuhkan luka. Hati-hati bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes, jangan terlalu banyak mengkonsumsi buah ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PEPAYA DAN MANGGA</strong><br />
Jus campuran pepaya dan mangga memiliki kandungan karbohidrat dan enzim yang tinggi. Jus segar ini bermanfaat dalam menanggulangi pembengkakan dan peradangan, gangguan pencernaan dan demam. Jus mangga sendiri dapat mengurangi dehidrasi dan memperlancar sirkulasi darah. Sedangkan pepaya melancarkan buang air besar dan mengatasi sembelit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PEAR</strong><br />
Mengkonsumsi buah Pear membantu mengatasi rasa tidak enak di perut akibat kadar asam yang berlebihan yang berasal dari makanan berkalori tinggi, berminyak dan pedas. Jus pear juga dapat dicampur dengan apel dan sedikit jeruk nipis.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>NANAS</strong><br />
Enzim bromealin dalam nanas melarutkan lendir yang sangat kental dalam sistem pencernaan sehingga juga dapat menghancurkan bisul bila ada. Masakan yang dibuat dengan 250 gram nanas yang diiris-iris, 60 gram cincangan daging ayam dan lada secukupnya yang kemudian digoreng dapat mengatasi penyakit darah rendah dengan gejala lemasnya kaki dan tangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>DELIMA</strong><br />
Di Irak dan Iran, jus delima yang dibuat kumur terlebih dahulu sebelum diminum membantu membersihkan mulut dan gigi, serta mencegah infeksi sehingga membantu menghilangkan bau mulut yang tidak sedap. Memakan dengan perlahan-lahan buah delima dan mengeluarkan bijinya dapat menjernihkan suara yang serak dan menghindari kekeringan tenggorokan. Manfaat lainnya, kandungan zat tanin dalam buah delima dapat membius cacing gelang, cacing kremi dan cacing pita dalam usus sehingga mereka dapat dikeluarkan melalui air besar. Cara ini sudah biasa digunakan oleh penduduk Mesir dan Vietnam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>TOMAT</strong><br />
Jus tomat segar sangat membantu pembentukan glycogen dalam liver. Menurut penelitian ditemukan bahwa jus tomat menyeimbangkan fungsi liver dengan cepat dan dengan demikian berarti menjaga stamina tubuh dan menyehatkan badan. Garam mineral yang kaya dalam tomat meningkatkan nafsu makan dan merangsang aliran air liur sehingga memungkinkan makanan dicerna dengan baik. Konsumsi tomat yang teratur membantu mengobati penyakit anoreksia (kehilangan nafsu makan).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SEMANGKA</strong><br />
Terlalu banyak mengkonsumsi daging-dagingan, manis-manisan, goreng-gorengan, kopi dan minuman ringan sering membuat darah terlalu banyak kandungan asamnya dan mengakibatkan bintik-bintik merah di kulit. Jus semangka akan merontokkan asam tersebut dan memperbaiki kandungan darah. Bagi penderita diabetes, mengkonsumsi secara teratur jus semangka dapat menjaga meningkatnya gula darah. Kelebihan kandungan asam urik dalam tubuh yang menyebabkan arthritis, encok dan keracunan urea dapat dihilangkan dengan meminum jus semangka secara teratur dua kali sehari.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KELENGKENG</strong><br />
Buah ini banyak mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, asam tartaric, vitamin A dan B. sebagai salah satu sumber energi, buah yang sangat manis ini berguna untuk meningkatkan stamina sehabis sakit. Kelengkeng sangat baik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi wanita hamil yang lemah atau setelah melahirkan. Memakan buah ini secukupnya secara teratur dapat menambah nafsu makan, mencegah anemia dan pemutihan rambut dini. Selain itu akan mempercepat kesembuhan luka luar. Awas, konsumsi secukupnya saja, kalau kelebihan, akan membuat tubuh menjadi panas akibat kelebihan energi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BELIMBING</strong><br />
Meminum atau memakan buah belimbing dan menelannya secara perlahan dapat mencegah dan mengatasi infeksi mulut dan tenggorokan. Campuran belimbing dan madu juga dapat membantu mencegah dan mengatasi kencing batu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>LECI</strong><br />
Selain kandungan protein, lemak, vitamin C, fosfor, dan zat besi, buah leci mengandung sukrosa dan glukosa yang melimpah. Mengkonsumsi buah leci pada malam hari dapat menambah cadangan energi untuk keesokan harinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KELAPA</strong><br />
Air kelapa mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa, sedangkan dagingnya selain tiga hal di atas juga mengandung protein, lemak, vitamin dan tentunya minyak kelapa. Meminum air kelapa muda dan memakan dagingnya dapat mengurangi kegerahan, mulut kering, demam dengan kehausan serta diabetes. Selain itu, minum air kelapa muda dipercaya membuang racun dalam darah. Perhatian, terlalu banyak minum air kelapa muda menyebabkan sedikit rasa lemas sementara. Bagi yang memiliki gangguan tulang jangan mengkonsumsi banyak air kelapa. Buah-buahan merupakan sumber makanan alami yang paling siap untuk langsung dikonsumsi manusia, sayang kadang kala dilupakan. Dengan penjelasan di atas, semoga buah-buahan tidak lagi dilupakan sebagai makanan yang wajib dikonsumsi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=48&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/07/09/manfaat-buah-buahan-untuk-kesehatan-dan-penyembuhan-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/syaikh-muhammad-rasyid-ridha/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/syaikh-muhammad-rasyid-ridha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 03:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (Seorang Reformis Besar; Hijrah Dari Tasawuf Ke ‘Aqidah Salaf) Seorang syaikh reformis besar, Muhammad Rasyid Ridha, siapa yang tidak mengenal matahari di tengah siang benderang? Riwayat hidup reformis ini termasuk riwayat-riwayat hidup yang sangat mengesankan perasaan saya dan menggantungkan hati saya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang siapa dia. Yah, tokoh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=34&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul">Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (Seorang Reformis Besar; Hijrah Dari  Tasawuf Ke ‘Aqidah Salaf)</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang syaikh reformis besar, Muhammad Rasyid Ridha, siapa  yang tidak mengenal matahari di tengah siang benderang? Riwayat hidup reformis  ini termasuk riwayat-riwayat hidup yang sangat mengesankan perasaan saya dan  menggantungkan hati saya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang siapa dia.<span id="more-34"></span> Yah, tokoh yang lain dan beda dari tokoh-tokoh yang lainnya. Berbagai pengalaman  di dunia membuat jalan Rasyid menjadi terang, ia cari kebenaran dengan dalilnya,  bekerja keras demi menyampaikan dakwah, memberantas bid’ah dan menyebarkan apa  yang dianggapnya haq. Ia terus belajar dan bepergian untuk mencari orang yang  kelak dapat menerangi cakrawala ma’rifah dengan dalilnya. Setelah berada di  perguruan yang bertarung dengan berbagai pengalaman, akhirnya kondisinya pun  menjadi stabil. Berkat taufiq Allah, ia berjalan di atas jalan orang-orang yang  shalih, membawa panji salaf sebagai penyebar, pengajar, pembela dan pendebatnya.  Maka lahirlah di tangannya generasi intelektual yang mengikuti jejaknya dan  berkomitmen dengan manhaj Salaf.</p>
<p><strong><em>Siapa Muhammad Rasyid Ridha? </em><br />
</strong><br />
Beliau adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin  Baha’uddin al-Qalmuni, al-Husaini. Nasabnya sampai kepada <em>Alu al-Bayt (Ahli  Bayt) </em>.</p>
<p>Beliau dilahirkan pada tanggal 27-5-1282 H di sebuah desa  bernama Qalmun, sebelah selatan kota Tharablas (Tripoli), Syam. Ia mulai  menuntut ilmu dengan menghafal al-Qur’an, mempelajari khat dan ilmu berhitung.</p>
<p>Kemudian belajar di madrasah “ar-Rasyidiyyah” yang bahasa pengantarnya  adalah bahasa Turki. Tetapi tak berapa lama, ia tinggalkan tempat itu untuk  meneruskan studinya di sekolah nasional Islam (al-Wathaniyyah al-Islamiyyah)  yang didirikan dan diajarkan gurunya, Husain al-Jisr. Ia mengenyam belajar di  sekolah ini selama 7 tahun yang kemudian merubah perjalanan kehidupannya dan  mulailah <em>‘rihlah’</em> Tasawufnya.</p>
<p><strong><em>Bersama Tarekat Syadziliyyah</em> </strong></p>
<p>Beliau mulai mempelajari tasawuf ketika gurunya, Husain al-Jisr  membacakan kepadanya sebagian buku-buku Tasawuf, di antaranya beberapa pasal  dari kitab ‘al-Futuuhaat al-Makkiyyah’ dan beberapa pasal dari kitab karya  al-Fariyaq.</p>
<p>Pernah ia membaca ‘wird as-Sahar’ dari buku Tasawuf itu, dan  saat membaca bait berikut:<br />
<em>Dan derai air mata telah mendahuluiku<br />
Akibat rasa takut terhadap-Mu</em></p>
<p>Beliau berhenti dan menolak untuk  membacanya karena merasa air matanya tidaklah berderai saat itu. Penolakannya  ini semata karena merasa malu berdusta kepada Allah sebab kenyataannya air  matanya belum dan tidak berderai ketika membaca bait itu.??!!</p>
<p>Setelah  beliau menggali dan memperdalam ilmu dan ushuluddin, sadarlah ia bahwa membaca  ‘Wird’ tersebut termasuk <strong>bid’ah</strong>. Karena itu, ia pun meninggalkannya dan  lebih memilih untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an.</p>
<p>Beliau juga  sempat belajar dengan gurunya yang lain, Abu al-Mahasin al-Qawiqji hingga  berhasil mendapatkan ‘ijazah’ (semacam rekomendasi sah sebagai murid yang berhak  membaca buku gurunya-red) untuk kitab <em>‘Dala’il al-Khairat.’ </em></p>
<p>Setelah mempelajarinya, semakin nyata baginya bahwa kebanyakan isi  buku tersebut mengandung kedustaan terhadap Nabi SAW, maka beliau pun  meninggalkannya.</p>
<p>Ia kemudian beranjak membaca dzikir-dzikir dan  wirid-wirid yang berisi shalawat kepada Nabi SAW yang kualitasnya dapat  dipertanggungjawabkan (valid).</p>
<p><strong><em>Bersama Tarekat Naqsyabandiyyah</em> </strong></p>
<p>Mengenai hal ini, Syaikh Rasyid menyebutkan bahwa yang membuatnya  gandrung mempelajar Tasawuf adalah pesona kitab <em>‘Ihya’ ‘Ulum ad-Diin’</em> karya Imam al-Ghazali.</p>
<p>Kemudian beliau meminta kepada gurunya dalam  tarekat Syadziliyyah, Muhammad al-Qawiqji untuk memperkenankannya untuk tetap  menjalankan tarekat Syadziliyyah secara formalitas saja namun sang guru  berkeberatan seraya berkata, “Wahai anakku, aku bukan orang yang tepat untuk  mengabulkan permintaanmu itu. Permadani ini telah dilipat dan para penganutnya  telah berlalu…”</p>
<p>Syaikh Rasyid juga menyebutkan, ada temannya yang  bernama Muhammad al-Husaini berhasil menjadi seorang Sufi terselubung dalam  tarekat Naqsyabandiyyag. Ia beranggapan dirinya telah mencapai tingkat ‘Mursyid  Sempurna’.</p>
<p>Karena itu, Rasyid lalu mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah ini  melalui bimbingan temannya itu. Beliau akhirnya banyak menghabiskan usianya  dalam tarekat ini. Mengenai hal ini, beliau bertutur, “Di sela-sela itu, aku  melihat banyak sekali perkara-perkara ruhani yang terjadi di luar kebiasaan.  Dari banyak kejadian itu, aku berupaya menafsirkannya namun sebagiannya tak  berhasil aku ungkap.”</p>
<p>Beliau melanjutkan, “Akan tetapi buah cita rasa  yang tidak lazim ini tidak sama sekali menunjukkan bahwa seluruh sarananya  adalah disyari’atkan atau sebagiannya yang bernuansa bid’ah dibolehkan seperti  yang kemudian aku teliti lagi.”</p>
<p>Rasyid menyebut kegiatannya menjalani  ‘wirid harian’ dalam tarekat Naqsyabandiyyah adalah dengan cara mengucapkan nama  ‘Allah’ di dalam hati, tanpa ucapan lisan sebanyak 5000 kali seraya  membelalakkan kedua mata, menahan nafas sekuat daya dan mengikat hati dengan  hati sang guru.</p>
<p>Setelah di kemudian hari jelas baginya semua itu, ia  menyebut wirid itu sebagai perbuatan <strong>bid’ah</strong> bahkan dapat mencapai  kesyirikan terselubung ketika seseorang mengikat hatinya dengan hati sang guru.  Sebab dalam tuntutan tauhid, seorang hamba di dalam setiap ibadahnya harus  menuju Allah semata, dengan lurus total dan tidak condong serta berserah diri  kepada-Nya dalam agama.</p>
<p>Mengenai pengalamannya bersama aliran ‘Tasawuf’  ini, Syaikh Rasyid kemudian menyebut banyak hal, di antaranya, beliau  mengatakan, “Kesimpulannya, saya dulu berkeyakinan bahwa Thariqat  (Tarekat/Jalan), Ma’rifah, Penyucian jiwa dan mengetahui rahasia-rahasianya  adalah dibolehkan secara syari’at, tidak terlarang sama sekali dan dapat berguna  seraya berharap mencapai ma’rifat Allah, tanpa melakukannya tidak akan mencapai  sasaran.”</p>
<p><strong><em>Mendapat Hidayah, Beralih Dari Tasawuf Ke Pemahaman  Salaf</em> </strong></p>
<p>Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai  <em>Sufi</em>, beliau menuturkan pengalamannya, “Saya sudah menjalani Tarekat  Naqsyabandiyyah, mengenal yang tersembunyi dan paling tersembunyi dari  misteri-misteri dan rahasia-rahasianya. Aku telah mengarungi lautan Tasawuf dan  telah meneropong intan-intan di dalamnya yang masih kokoh dan buih-buihnya yang  terlempar ombak. Namun akhirnya petualangan itu berakhir ke tepian damai,  ‘pemahaman Salaf ash-Shalih’ dan tahulah aku bahwa setiap yang bertentangan  dengannya adalah kesesatan yang nyata.”</p>
<p>Beliau banyak terpengaruh oleh  majalah ‘al-‘Urwah al-Wutsqa’ dan artikel-artikel para ulama dan sastrawan.  Terlebih, pengaruh gurunya, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Beliau  benar-benar terpengaruh sekali sehingga seakan gurunya lah yang telah  menggerakkan akal dan pikirannya untuk membuang jauh-jauh seluruh bid’ah dan  menggabungkan antara ilmu agama dan modern serta mengupayakan tegak kokohnya  umat dalam upaya menggapai kemenangan.</p>
<p>Dan yang lebih banyak  mempengaruhinya lagi adalah beliau buku-buku karya Syaikhul Islam, Ibnu  Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.</p>
<p>Hal itu, menciptakan gerak dan  aktifitasnya setelah sebelumnya tenggelam dalam kubangan kemalasan, kehilangan  kesadaran dan terjerumus ke dalam berbagai bid’ah dan kesesatan seperti yang ada  pada aliran Tasawuf.</p>
<p><strong><em>Mengingkari Penganut Tarekat-Tarekat Sufi</em> </strong></p>
<p>Kejadian pertama di mana secara terang-terangan beliau mengingkari  tarekat-tarekat sufi itu adalah saat suatu hari, seusai shalat Jum’at, salah  satu keluarga penganut tarekat Sufi mengadakan acara yang disebut Rasyid sebagai  ‘Pertemuan Dengan Maulawiyyah’.</p>
<p>Mengenai hal ini, Rasyid mengisahkan,  bahwa tatkala sudah tiba waktu pertemuan, para guru Sufi yang sering disebut  ‘Darawisy Maulawiyyah’ berkumpul di majlis mereka. Di depan mereka duduk sang  guru resmi. Di situ, hadir para bocah-bocah berwajah tampan dan mulus,  berpakaian putih cemerlang layaknya jilbab para pengantin. Mereka menari-nari  mengikuti irama musik, berputar-putar dengan sangat cepat seraya bersorak-sorai.  Jarak mereka beriringan, tidak saling berbenturan, mengulurkan lengan-lengan dan  memiringkan pundak-pundak. Satu demi satu dari mereka melewati sang guru seraya  merunduk.</p>
<p>Pemandangan itu sungguh mengganggu dan melukai perasaan  Rasyid. Ia tidak menyangka kondisi kaum muslimin sampai sekian jauh terperosok  ke dalam bid’ah dan khurafat. Betapa tega mempermainkan keyakinan manusia dan  meracuni akal pikiran mereka. Yang benar-benar menyakiti perasaannya adalah  anggapan mereka bahwa permainan bid’ah itu adalah sebagai bentuk ibadah dalam  mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan mendengar dan menyaksikan pemandangan itu  mereka anggap sebagai ibadah yang disyari’atkan.</p>
<p>Rasyid tidak hanya  bertopang dagu menyaksikan hal itu. Ia terpanggil untuk mengemban kewajiban  sesuai dengan bacaan yang selama ini ia dapatkan dari referensi Salaf baik  melalui kitab-kitab mau pun majalah-majalahnya.</p>
<p>Ia mengisahkan, “Aku  katakan kepada mereka, ‘Apa ini.?’ Salah seorang menjawab, ‘Ini dzikir tarekat  maulana Jalaluddin ar-Rumi, penyandang kedudukan terhormat.!’ Mendengar itu, aku  tidak dapat menahan diri lagi. Aku langsung berdiri di ruang utama seraya  berteriak sekencang-kencangnya, yang kira-kira bunyinya, ‘Wahai manusia dan kaum  muslimin! Ini perbuatan munkar, tidak boleh dilihat apalagi mendiamkannya sebab  sama artinya menyetujui dan melegitimasi para pelakunya. Padahal Allah  berfirman, <em>‘Mereka menjadikan agama mereka sebagai ejekan dan mainan.’ </em>Sungguh, aku telah menjalankan kewajibanku. Karena itu, keluarlah kalian,  semoga Allah merahmati!’”</p>
<p>Kemudian, Rasyid pun cepat-cepat keluar menuju  kota. Teriakan ‘Salafi’-nya itu berbuah juga. Sekali pun baru diikuti segelintir  orang tetapi gaungnya masih terus bergema di tengah masyarakat. Ada pihak yang  mendukung dan ada pula yang menentangnya.</p>
<p>Sekalipun banyak dari kalangan  tuan-tuan guru Sufi yang menentang dan mengingkari tindakan Rasyid, namun anak  muda ini bertekad akan terus menempuh caranya dalam memperbaiki masyarakat dari  kesesatan-kesesatan dan bid’ah-bid’ah tersebut.</p>
<p>Ironisnya, justeru di  antara yang menentangnya itu adalah gurunya sendiri, yang dulu beliau pernah  mendalami tarekat Syadzili padanya, Syaikh Husain al-Jisr. Sang guru  beranggapan, tidak boleh mengganggu para Sufi dan aktifitas bid’ahnya, siapa pun  orangnya. Saat itu, gurunya itu berkata kepadanya, “Aku nasehati kamu agar tidak  mengganggu para ahli tarekat.” Rasyid menjawab dengan nada mengingkari, “Apakah  para ahli tarekat itu memiliki hukum-hukum syari’at sendiri selain hukum-hukum  umum untuk seluruh umat Islam.?”</p>
<p>Ia menjawab, “Tidak! Tetapi mereka  memiliki niat yang tidak sama dengan niat sembarang orang, mereka juga memiliki  pandangan yang berbeda dengan pandangan orang-orang.” Rasyid menjawab, “Dosa  yang dilakukan para ahli tarekat itu lebih besar daripada dosa pelaku maksiat  biasa sebab mereka (para ahli tarekat) telah menganggap mendengarkan kemungkaran  dan tarian yang dilakukan bocah-bocah tampan dan mulus itu sebagai bentuk ibadah  yang disyari’atkan sehingga mereka itu telah membuat syari’at agama untuk diri  mereka yang tidak pernah diperkenankan Allah sama sekali. Tetapi saya tidak  pernah tidak mengingkari suatu kemungkaran yang terjadi di hadapan mata saya.!”</p>
<p>Sekali pun hujjah Rasyid sangat kuat dalam membantah gurunya, hanya saja  sang guru tetap berpegang pada pendiriannya karena menganggap ia memiliki  kehormatan dan kemuliaan.!!</p>
<p>Perbedaan pendapat di antara murid dan sang  guru itu terus berlanjut, bahkan semakin tajam saat Rasyid berhijrah ke Mesir.  Apalagi melalui majalahnya, <em>‘al-Manar,’ </em>Rasyid sangat mengingkari  perbuatan para ahli tarekat Sufi itu. Sebab ia sudah melihat sendiri betapa  kemungkaran dan bid’ah yang terjadi dalam berbagai kegiatan spritual  tarekat-tarekat sufi itu seperti perayaan maulid. Sementara itu, sang guru,  al-Jisr gigih pula membantah pendapat Rasyid, yang kemudian dibalas pula oleh  Rasyid melalui majalahnya.</p>
<p>Setelah banyak membaca dan mendapatkan ilmu  dari bacaannya terhadap buku-buku karya Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dan  muridnya, Ibn al-Qayyim, ditambah buku karya Ibn Hajar <em>‘az-Zawaajir ‘An  Iqtiraaf al-Kabaa’ir’</em>, Rasyid terus menentang tindakan para penyembah  kuburan (Quburiyyun) dari kalangan aliran Tasawuf dan lainnya.</p>
<p>Ia pun  telah mengkaji secara seksama buku karangan al-Alusi, <em>‘Jalaa’ al-‘Ainain Fii  Muhaakamati al-‘Ahmadiin’</em>. Buku ini menyadarkannya mengenai  penyebab-penyebab terjadinya penyimpangan aliran Tasawuf dan betapa jernihnya  dakwah Syaikhul Islam. Ia menyadari, bahwa ucapan-ucapan al-Haitsami dan ulama  Tasawuf (kaum Sufi) lainnya tidak lain hanya terbit dari hawa nafsu dan bualan  kaum Sufi semata.!!</p>
<p>Semoga Allah, merahmati Syaikh Muhammad Rasyid  Ridha, Sang reformis besar atas apa yang telah dipersembahkan dan dilakukannya  dalam menasehati dan membongkar kedok kaum Sufi.</p>
<p>Semoga Allah menerima  taubatnya dan mema’afkan ketergelincirannya. Wa Shallallahu ‘ala Sayyidina  Muhammad, Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam.</p>
<p>Ditulis oleh Abu ‘Umar  al-Manhaji, dari situs, ad-difa’ ‘an as-Sunnah. (AH)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=34&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/syaikh-muhammad-rasyid-ridha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Taymiyah</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/ibnu-taymiyah/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/ibnu-taymiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 03:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Taymiyah Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh, rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa pucuk-pucuknya. Ketika siang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=33&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul"><strong>Ibnu Taymiyah</strong></p>
<p align="justify">Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga  mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu  pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh,  rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu  khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa  pucuk-pucuknya. Ketika siang menjelang ia dipayungi rimbunan dahan di  sekitarnya. Dan saat petang beranjak, sang raja siangpun sempat menyapa selamat  tinggal melalui sinarnya yang lembut. Sang tunas tumbuh dalam suasana hangat.  Maka tak heran jika ia tumbuh dalam, berbuah lebat, berbatang kokoh dan berdahan  rindang. Tunas itu adalah Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah.  <span id="more-33"></span></p>
<p>Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah.  Seorang Syaikh, hakim, khatib, &#8216;alim dan wara&#8217;. Kakeknya Majduddin Abul Birkan  Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih,  ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz.</p>
<p>Lahir di harran, 10 Rabiul  Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam.  Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.</p>
<p>Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul  fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah  mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah  Ta&#8217;ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda , ia telah  hafal Al-qur&#8217;an.</p>
<p>Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut  ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis  mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu  mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.</p>
<p>Ibnu Taymiyyah amat  menguasai rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul hadits (macam-macam hadits)  baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat  dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah,  ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan  kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu &#8216;ushul sambil  mengomentari para filosof . Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah  (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari&#8217;ah. Ibnul Wardi  menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus  judul.</p>
<p>Al-Washiti mengemukakan: &#8220;Demi Allah, syaikh kalian (Ibnu  Taymiyyah) memiliki keagungan khuluqiyah, amaliyah, ilmiyah dan mampu menghadapi  tantangan orang-orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatanNya.&#8221;</p>
<p><strong>Mujahid Dan Mujaddid</strong></p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya, beliau  juga terjun ke masyarakat menegakkan amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar. Ia tak  mengambil sikap uzlah melihat merajalelanya kema&#8217;syiyatan dan kemungkaran. Suatu  saat, dalam perjalanannya ke Damaskus, disebuah warung yang biasa jadi tempat  berkumpulnya para pandai besi, ia melihat orang bermain catur. Ia langsung  mendatangi tempat itu untuk mengambil papan catur dan membalikkannya. Mereka  yang tengah bermain catur hanya termangu dan diam.</p>
<p>Beliau juga pernah  mengobrak-abrik tempat pemabukkan dan pendukungnya. Bahkan, pernah pada suatu  jum&#8217;at, Ibnu Taymiyyah dan pengikutnya memerangi penduduk yang tinggal digunung  jurdu dan Kasrawan karena mereka sesat dan rusak aqidahnya akibat perlakuan  tentara tar-tar yang pernah menghancurkan kota itu. Beliau kemudian menerangkan  hakikat Islam pada mereka.</p>
<p>Tak hanya itu, beliau juga seorang mujahid  yang menjadikan jihad sebagai jalan hidupnya. Katanya: &#8220;Jihad kami dalam hal ini  adalah seperti jihad Qazan, jabaliah, Jahmiyah, Ittihadiyah dan lain-lain.  Perang ini adalah sebagian nikmat besar yang dikaruniakan Allah Ta&#8217;ala pada kita  dan manusia. Namun kebanyakan manusia tak banyak mengetahuinya.&#8221;</p>
<p>Tahun  700 H, Syam dikepung tentara tar-tar. Ia segera mendatangi walikota Syam guna  memecahkan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan mengemukakan ayat Alqur&#8217;an ia  bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu  membuat ia dipercaya untuk meminta bantusan sultan di Kairo. Dengan argumentasi  yang matang dan tepat, ia mampu menggugah hati sultan. Ia kerahkan seluruh  tentaranya menuju Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan yang gemilang.</p>
<p>Pada Ramadhan 702 H, beliau terjun sendiri kemedan perang Syuquq yang  menjadi pusat komando pasukan tar-tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju  bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema  mereka berhasil mengusir tentara tar-tar. Syuquq dapat dikuasai.</p>
<p><strong>Pandangan Dan Jalan Fikiran</strong></p>
<p>Pemikiran Ibnu Taymiyyah tak  hanya merambah bidang syar&#8217;I, tapi juga mengupas masalah politik dan  pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya  Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syi&#8217;ah wal Qadariyah (Jalan  Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi&#8217;ah dan  Qadariyah), As-Siyasah as-Syar&#8217;iyah (Sistem Politik Syari&#8217;ah), Kitab  al-Ikhriyaratul &#8216;Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan  Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam)</p>
<p>Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syari&#8217;at dan  aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash  tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta&#8217;ala. Aliran ini tak percaya  pada metode logika rasional yang asing bagi Islam, karena metode semacam ini  tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi&#8217;in. Baik dalam masalah Ushuludin,  fiqih, Akhlaq dan lain-lain, selalu ia kembalikan pada Qur&#8217;an dan Hadits yang  mutawatir. Bila hal itu tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para  sahabat, meskipun ia seringkali memberikan dalil-dalilnya berdasarkan perkataan  tabi&#8217;in dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan.</p>
<p>Menurut Ibnu Taymiyyah,  akal pikiran amatlah terbatas. Apalagi dalam menafsirkan Al-Qur&#8217;an maupun  hadits. Ia meletakkan akal fikiran dibelakang nash-nash agama yang tak boleh  berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan  qur&#8217;an, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan  dikuatkan oleh hadits. Akal fikiran hanyalah saksi pembenar dan penjelas  dalil-dalil Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Bagi beliau tak ada pertentangan antara cara  memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak  mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara  aqal dan pendengaran (sam&#8217;i) maka harus didahulukan dalil qath&#8217;i, baik ia  merupakan dalil qath&#8217;i maupun sam&#8217;i.</p>
<p><strong>Polemik Ibnu Taymiyah</strong></p>
<p>Pribadi Ibnu Taymiyyah memiliki banyak sisi. Sebuah peran yang sering  terlihat adalah kegiatannya menentang segala bid&#8217;ah, khurafat dan  pandangan-pandangan yang menurutnya sesat. Tak heran jika ia banyak mendapat  tantangan dari para ulama.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid&#8217;ah,  orang-orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah  (ahli filsafat), Bathiniyah (pengikut kebathinan), Mulahadah (mereka yang keras  menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wihdatul wujud  (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya  waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala  kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, mu&#8217;thilah, Mujassamah, Musyibihah,  Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain yang terdiri atas orang-orang  yang tenggelam dalam kesesatan, dan mereka yang telah tertarik masuk kedalamnya  penuh sesat. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syari&#8217;at Muhammad yang  suci, yang berada diatas segala agama. Para pemuka aliran sesat tersebut  menyebabkan manusia berada dalam keraguan tentang dasar-dasar agama mereka.  Sedikit sekali saya mendengan mereka menggunakan Al-qur&#8217;an dan hadits dengan  sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq yang tak yakin dengan agama.  Setelah saya melihat semua itu, jelaslah bagi saya bahwa wajib bagi setiap orang  yang mampu untuk menentang kebathilan serta melemahkan hujjah-hujjah mereka,  untuk mengerahkan tenaganya dalam menyingkap keburukkan-keburukkannya dan  membatalkan dalil-dalilnya.&#8221; Demikian diantara beberapa pendapatnya yang  mendapat tantangan dari mereka yang merasa dipojokkan dan disalahkan.</p>
<p>Tahun 705 H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taymiyyah diuji. Para Qadhi  berkumpul bersama sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit  antara mereka, akhirnya jelah bahwa Ibnu Taymiyyah memegang aqidah sunniyah  salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taymiyyah.</p>
<p>Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taymiyyah terus  berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan  masyarakat melalui pendapat-pendapatnya yang kontroversial. Sang qadhi yang  telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taymiyyah bersalah. Beliau diputuskan  tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.</p>
<p>Dalam perjalanan  hidupnya, ia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H,  berdasarkan fakta yang diputar balikkan, Sultan megeluarkan perintah  penangkapannya. Mendengar ini ia berujar, &#8220;Saya menunggu hal itu. Disana ada  masalah dan kebaikkan banyak sekali.&#8221;</p>
<p>Kehidupan dalam penjara ia  manfaatkan untuk membaca dan menulis. Tulisan-tulisannya tetap mengesankan  kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit  ruang gerak Ibnu Taymiyyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, semua buku, kertas,  tinta dan pena-nya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu  Taymiyyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah.  Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.</p>
<p>Setelah menderita  sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan  cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara.<br />
Hari itu, tanggal 20  Dzulqaidah 728 H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak.  Para Emir, pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan,  anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar  jenazahnya.</p>
<p align="justify">Dikutib dari : <a href="http://alsofwah.or.id" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">http://alsofwah.or.id</span></span></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=33&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/ibnu-taymiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam al-Bukhary</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-al-bukhary/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-al-bukhary/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 03:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Imam Al-Bukhary Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari). Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=32&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul" style="text-align:justify;"><strong>Imam Al-Bukhary</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal  hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah  anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat  al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari). <span id="more-32"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau  didengar oleh para ahlul hadits negeri itu. Maka, berkumpullah mereka untuk  menguji kehebatan hafalan beliau tentang hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Syahdan para ulama  tersebut sengaja mengumpulkan seratus buah hadits. Susunan, urutan dan letak  matan serta sanad seratus hadits tersebut sengaja dibolak-balik. Matan dari  sebuah sanad diletakkan untuk sanad lain, sementara suatu sanad dari sebuah  matan diletakkan untuk matan lain dan begitulah seterusnya. Seratus buah hadits  itu dibagikan kepada sepuluh orang tim penguji, hingga masing-masing mendapat  bagian sepuluh buah hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka tibalah ketetapan hari yang telah  disepakati. Berbondong-bondonglah para ulama dan tim penguji itu, serta para  ulama dari Khurasan dan negeri-negeri lain serta penduduk Baghdad menuju tempat  yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika suasana majlis telah menjadi tenang, salah  seorang dari kesepuluh tim penguji mulai memberikan ujiannya. Beliau membacakan  sebuah hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya kepada al-Imam  al-Bukhari. Ketika ditanyakan kepada beliau, al Imam al-Bukhari menjawab, “Saya  tidak kenal hadits itu.” Demikian seterusnya satu persatu dari kesepuluh hadits  penguji pertama itu dibacakan, dan al-Imam al-Bukhari selalu menjawab, “Saya  tidak kenal hadits itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa ulama yang hadir saling berpandangan  seraya bergumam, “Orang ini berarti faham.” Akan tetapi ada di kalangan mereka  yang tidak mengerti, hingga menyimpulkan bahwa al-Imam al-Bukhari terbatas  pengetahuannya dan lemah hafalannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang kedua maju. Beliau juga  melontarkan sebuah hadits yang telah dibolak-balik sanad dan matannya, yang  kemudian dijawab pula, “Saya tidak kenal hadits itu”. Begitulah, orang kedua ini  pun membacakan sepuluh hadits yang menjadi bagiannya, dan seluruhnya dijawab  beliau, “Saya tidak kenal hadist itu.”<br />
Begitulah selanjutnya orang ketiga,  keempat, kelima hingga sampai orang kesepuluh, semuanya membawakan masing-masing  sepuluh hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya. Dan al-Imam  al-Bukhari memberikan jawaban tidak lebih daripada kata-kata, “Saya tidak kenal  hadits itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah semuanya selesai menguji, beliau kemudian menghadap  orang pertama seraya berkata, “Hadits yang pertama anda katakan begini, padahal  yang benar adalah begini, lalu hadits anda yang kedua anda katakan begini  padahal yang benar seperti ini. Begitulah seterusnya hingga hadits kesepuluh  disebutkan oleh beliau kesalahan letak sanad serta matannya, dan kemudian  dibetulkannya kesalahan itu hingga semua sanad dan matannya menjadi benar  kedudukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula seterusnya yang dilakukan oleh al-Bukhari  kepada para penguji berikutnya hingga sampai kepada penguji kesepuluh. Maka,  orang-orang pun lantas mengakui serta menyatakan kehebatan hafalan serta  kelebihan beliau. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Yang hebat  bukanlah kemampuan al-Bukhari dalam mengembalikan kedudukan hadits-hadits yang  salah, sebab beliau memang hafal, tetapi yang hebat justru hafalnya beliau  terhadap kesalahan yang dilakukan oleh para penguji tersebut secara berurutan  satu persatu hanya dengan sekali mendengar.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siapakah al-Imam  al-Bukhari</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah Abu Abdillah, bernama Muhammad bin Ismail  bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ja’fi. Kakek moyang Bardizbah  (begitulah cara pengucapannya menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani) adalah orang asli  Persia. Bardizbah, menurut penduduk Bukhara berarti petani. Sedangkan kakek  buyutnya, al-Mughirah bin Bardizbah, masuk Islaam di tangan al-Yaman al-Ja’fi  ketika beliau datang di Bukhara. Selanjutnya nama al-Mughirah dinisbatkan  (disandarkan) kepada al-Ja’fi sebagai tanda wala’ kepadanya, yakni dalam rangka  mempraktekkan pendapat yang mengatakan, bahwa seseorang yang masuk Islam, maka  wala’nya kepada orang yang mengislamkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun mengenai kakeknya,  Ibrahim bin al-Mughirah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Kami tidak  mengetahui (menemukan) sedikit pun tentang kabar beritanya.” Sedangkan tentang  ayahnya, Ismail bin Ibrahim, Ibnu Hibban telah menuliskan tarjamah  (biografi)-nya dalam kitabnya ats-Tsiqat (orang-orang yang tsiqah/terpercaya)  dan beliau mengatakan, “Ismail bin Ibrahim, ayahnya al-Bukhari, mengambil  riwayat (hadits) dari Hammad bin Zaid dan Malik. Dan riwayat Ismail diambil oleh  ulama-ulama Irak.” Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga telah menyebutkan  riwayat hidup ismail ini di dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em>. Ismail bin Ibrahim  wafat ketika Muhammad (al-Bukhari) masih kecil.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelahiran Dan  Wafatnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dilahirkan di Bukhara, sesudah shalat Jum’at pada tanggal  13 Syawal 194 H. Beliau dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang ilmiah,  tenang, suci dan bersih dari barang-barang haram. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim,  ketika wafat seperti yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Hatim, juru tulis  al-Bukhari, bahwa aku pernah mendengar Muhammad bin Kharasy mengatakan, “Aku  mendengar bahwa Ahid Hafs berkata, “Aku masuk menjenguk Ismail, bapaknya Abu  Abdillah (al-Bukhari) ketika beliau menjelang wafat, beliau berkata, “Aku tidak  mengenal dari hartaku barang satu dirham pun yang haram dan tidak pula satu  dirham pun yang sybhat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Bukhari wafat di Khartank sebuah desa di  negeri Samarkhand, malam Sabtu sesudah shalat Isya’, bertepatan dengan malam  Iedul fitri, tahun 256 H dan dikuburkan pada hari Iedul Fitri sesudah shalat  Zhuhur. Beliau wafat dalam usia 62 tahun kurang 13 hari dengan meninggalkan ilmu  yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu  Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertumbuhan Dan  Perkembangannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ayahnya wafat, beliau masih kecil, sehingga  beliau besar dan dibesarkan dalam asuhan ibunya. Beliau mencari ilmu ketika  masih kecil dan pernah menceritakan tentang dirinya seperti disebutkan oleh  al-Farbari dari Muhammad bin Abi Hatim. Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Aku  pernah mendengar al-Bukhari mengatakan, “Aku diilhami untuk menghafal hadits  ketika masih dalam asuhan mencari ilmu.” Lalu aku bertanya, “Berapa umur anda  pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang… dan seterusnya  hingga perkataan beliau, “Ketika aku menginjak umur enam belas tahun, aku telah  hafal kitab-kitab karya Ibnul Mubarak dan Wakil. Dan aku pun tahu pernyataan  mereka tentang Ash-hab (Ahlu) ra’yu”. Beliau berkata lagi, “Kemudian aku  berangkat haji bersama ibuku dan saudaraku, setelah menginjak usia delapan belas  tahun, aku telah menyusun kitab tentang sahabat dan tabi’in. Kemudian menyusun  kitab tarikh di Madinah di samping kuburan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> ketika malam terang bulan.” Beliau melanjutkan perkataannya, “Dan  setiap kali ada nama dalam at-Tarikh tersebut, pasti aku mempunyai kisah  tersendiri tentangnya, tetapi aku tidak menyukai jika kitabku terlalu panjang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Semenjak kecil beliau sibuk menggali ilmu dan mendengarkan hadits dari  berbagai negeri, seperti di negerinya sendiri. Dan beliau telah beberapa kali  mengunjungi Baghdad, hingga penduduk di sana mengakui kelebihannya dan  penguasaannya terhadap ilmu riwayah dan dirayah.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, singkatnya  beliau telah mengunjungi berbagai kota di Irak dalam rangka mencari ilmu hadits  dari tokoh-tokoh negeri tersebut, misalnya Bashrah, Balkh, Kufah dan lain-lain.  Beliau telah mendengarkan dan menggali hadits dari sejumlah banyak tokoh pembawa  hadits. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abi Hatim, bahwasanya beliau berkata,  “Aku tidak pernah menulis melainkan dari orang-orang yang mengatakan bahwa  al-Iman adalah ucapan dan tindakan.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jumlah Hadits Yang Dihafal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad bin Hamdawaih mengatakan, “Aku mendengar al-Bukhari berkata,  bahwa aku hafal seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits tidak  shahih.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kitab-Kitab Yang Disusun</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang paling pokok  adalah kitab al-Jamiush shahih (Shahihul Bukhari) yaitu kitab hadits tershahih  diantara kitab hadits lainnya. Selain itu beliau menyusun juga ktiab  <em>al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul  Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa</em> (hadits-hadits lemah), <em>al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir  al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, Asaami ash-Shahabah</em> (Nama-nama  para shahabat) dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Kekaguman Orang Terhadap  Al-Bukhari</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam al-Bukhari rahimahullah, merupakan barometer bagi  guru-gurunya dan manusia yang tahu dan hidup pada zamannya maupun sesudahnya.  al-Imam al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah  menyebutkan secara khusus tentang pujian dan jasa-jasa beliau dalam kitabnya  masing-masing. Adz-Dzahabi dalam <em>Tadzkiratul huffaazh</em> dan Ibnu Hajar  dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini beberapa contoh pujian dan  kekaguman mereka. Muhammad bin Abi Hatim mengatakan, bahwa aku mendengar Yahya  bin Ja’far al-Baikundi berkata, “Seandainya aku mampu menambahkan umur Muhammad  bin Ismail (al-Bukhari) dengan umurku, niscaya aku lakukan sebab kematianku  hanyalah kematian seorang sedangkan kematiannya berarti lenyapnya ilmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Raja’ bin Raja’ mengatakan, “Dia, yakni al-Bukhari, merupakan satu ayat  di antara ayat-ayat Allah yang berjalan di atas permukaan bumi.”</p>
<p style="text-align:justify;">Abu  Abdullah al-Hakim dalam Tarikh Naisabur berkata, “Dia adalah Imam Ahlul hadits,  tidak ada seorang pun di antara Ahlul Naql yang mengingkarinya.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Shahihul Jami’ Atau Shahih Bukhari</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh hadits yang  termuat di dalamnya adalah hadits-hadits shahih yang telah tetap dari Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bahkan semua <em>Mu’allaqaat</em> dalam  Shahih al-Bukhari dinyatakan shahih oleh para ulama Ahlul hadits. Adapun contoh  pernyataan ulama tentang Shahih al-Bukhari seperti dikatakan al-Hafizh Ibnu  Katsir dalam <em>al-Bidaayah wan Nihaayah</em>, “Para ulama telah bersepakat  menerimanya (yakni Shahihul Bukhari) dan menerima keshahihan apa-apa yang ada di  dalamnya, demikian pula seluruh ahlul Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi di samping Shahih  Muslim, Shahih al-Bukhari adalah kitab tershahih nomor dua setelah al-Qur’an  sebagaimana disebutkan dan disepakati oleh para ulama, di antaranya oleh  as-Subakti.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terusirnya Imam Al-Bukhari Dari Bukhara</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ghonjar mengatakan dalam kitab Tarikhnya, “Aku mendengar Ahmad bin  Muhammad bin Umar berkata, “Aku mendengar Bakar bin Munir mengatakan, “Amir  Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhail, amir penguasa Bukhara, mengirim utusan kepada  Muhammad bin Ismail, yang isinya, “Bawalah padaku kitab Jaami’ush Shahih dan  at-Tarikh supaya aku bisa mendengar dari kamu.” Maka, berkatalah al-Bukhari  kepada utusan tersebut, “Katakanlah kepadanya bahwa sesungguhnya aku tidak akan  merendahkan ilmu dan aku tidak akan membawa ilmuku itu ke hadapan pintu para  sultan. Apabila dia butuh (jika ilmu itu dikehendaki), maka hendaknya dia datang  kepadaku di masjidku atau di rumahku. Kalau hal ini tidak menyenangkan wahai  sultan, maka laranglah aku untuk mengadakan majlis ilmu, supaya pada hari kiamat  aku punya alasan di hadapan Allah bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu.” Ghonjar  mengatakan, “Inilah yang menyebabkan terjadinya krisis di antara keduanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hakim berkata, “Aku mendengar Muhammad bin al-‘Abbas adh-Dhobby  mengatakan, “Aku mendengar Abu Bakar bin Abu Amr berkata, “Perginya Abu Abdillah  al-Bukhari dari negeri Bukhara disebabkan Khalid bin Ahmad Khalifah bin Thahir  meminta beliau untuk hadir di rumahnya supaya membacakan kitab at-Tarikh dan  al-Jaami’ush Shahih kepada anak-anaknya, tapi beliau menolak. Beliau katakan,  “Aku tidak mempunyai waktu jika hanya orang-orang khusus yang mendengarkannya  (mendengarkan ilmuku, pen). Maka Khalid bin Ahmad meminta tolong kepada Harits  bin Abi al-Warqa` dan lainnya dari penduduk Bukhara untuk bicara  mempermasalahkan madzhabnya. Akhirnya Khalid bin Ahmad mengusir beliau dari  Bukhara.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sekelumit tentang Imam Bukhari, beliau juga pernah  difitnah sebagai orang yang mengatakan, bahwa bacaanku terhadap al-Qur’an adalah  makhluk. Padahal beliau tidak mengatakan demikian dan bahkan secara tegas beliau  membantah bahwa orang yang membawa berita tersebut adalah pendusta. Beliau  bahkan mengatakan, “Bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, sedangkan  perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.” (lihat <em>Hadyu as-Sari Muqadimah  Fathul Bari</em> bagian akhir halaman 490-491). Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">(SUMBER:  <em>Majalah as-Sunnah</em>, no.02/Th.I, Jumada Tsani-Rajab 1413 H/Desember 1992 M,  diterjemahkan dan disusun oleh Ahmas Faiz dengan sedikit perubahan)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=32&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-al-bukhary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IMAM ASY-SYAFI&#8217;I</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-asy-syafii/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-asy-syafii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 02:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[IMAM ASY-SYAFI&#8217;I (Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua Madzhab Pendahulunya) Nama Dan Nasabnya Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=31&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul" style="text-align:justify;">IMAM ASY-SYAFI&#8217;I (Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua  Madzhab Pendahulunya)</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Nama Dan Nasabnya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah Muhammad  bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu  Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin  Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi  asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.<span id="more-31"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul  Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu  nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang  ketiga</p>
<p style="text-align:justify;">Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama  Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan  Raasulullah SAW ketika masih muda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan as-Saib adalah seorang yang  mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari  Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama <em>Fushthath</em>, datanglah  as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah  SAW memandangnya dan berkata, <em>“Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip  dengan ayahnya.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Gelarnya </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ia digelari sebagai <em>Naashir  al-Hadits</em> (pembela hadits) atau Nasshir as-Sunnah, gelar ini diberikan  karena pembelaannya terhadap hadits Rasulullah SAW dan komitmennya untuk  mengikuti as-Sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Kelahiran Dan Pertumbuhannya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Para sejarawan sepakat, ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan  -menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah RAH tetapi mengenai  tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Tempat  Kelahirannya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam  asy-Syafi’i. Yang paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah  (Ghaza). Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan  di Yaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Baihaqi mengkonfirmasikan semua riwayat-riwayat  tersebut dengan mengatakan bahwa yang shahih beliau dilahirkan di Ghaza bukan di  Yaman. Sedangkan penyebutan ‘Yaman’ barangkali maksudnya adalah tempat yang  dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghaza. Beliau kemudian lebih  mendetail lagi dengan mengatakan, “Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam  asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghaza, lalu dibawa ke ‘Asqalan, lalu dibawa ke  Mekkah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Hajar mengkonfirmasikan secara lebih spesifik lagi dengan  mengatakan tidak ada pertentangan antar riwayat-riwayat tersebut (yang  mengatakan Ghaza atau ‘Asqalan), karena ketika asy-Syafi’i mengatakan ia lahir  di ‘Asqalan, maka maksudnya adalah kotanya sedangkan Ghaza adalah kampungnya.  Ketika memasuki usia 2 tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur  dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman, karena ibunya  berasal dari suku Azd. Ketika berumur 10 tahun, ia dibawa ibunya ke Mekkah  karena ibunya khawatir nasabnya yang mulia itu lenyap dan terlupakan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Pertumbuhan Dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di  samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing dari  keluarga. Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya  atas taufiq Allah, ibunya membawanyanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari situ,  mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil menamatkannya  dalam usia 7 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa  belajar dan mencari guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya,  namun gurunya rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia  banyak menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari  beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke tulang-tulang  yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke dalam karung.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia  juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih berusia sekitar 10  tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati agar ia bersungguh-sungguh  untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia pun merasakan lezatnya menuntut ilmu  dan karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus  pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya  untuk mencatat.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30  juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab  <em>al-Muwaththa`</em> karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat  lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin  Khalid az-Zanji.</p>
<p style="text-align:justify;">Semula beliau begitu gandrung dengan sya’ir dan bahasa  di mana ia hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, ia sempat berinteraksi  dengan mereka selama 10 atau 20 tahun. Ia belajar ilmu bahasa dan balaghah.  Dalam ilmu hadits, ia belajar dengan imam Malik dengan membaca langsung kitab  <em>al-Muwaththa`</em> dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum.  Di samping itu, ia juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga gurunya banyak.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Pengembaraannya Dalam Menuntut Ilmu</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam  asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia  mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih.  Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama  interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah  dan peperangan bangsa Arab serta sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapasitas keilmuannya dalam  bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab,  al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya  amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan pingsan. Hal  ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin menangis,  masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah menuju pemuda  al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,” dan bila kami sudah mendatanginya  sedang shalat di al-Haram seraya memulai bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih  dan menangis tersedu-sedu saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi  orang-orang seperti itu, ia berhenti membacanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Mekkah, setelah  dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru kepada Muslim bin Khalid az-Zanji,  seorang mufti Mekkah. Setelah itu, ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba  ilmu dari Imam Malik. Di sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun  hingga sang guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada  Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan ulama-ulama  selain mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah  Najran sebagai Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang  ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan menjelek-jelekkannya serta  mengadukannya kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar  al-Khilafah pada tahun 184 H. Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di  hadapan khalifah dengan hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi  khalifah bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak  bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini dimuat  pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau kemudian merantau ke  Baghdad dan di sana bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid  Imam Abu Hanifah. Beliau membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu <em>Ahli  Ra`yi</em> (kaum Rasional), kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana  selama kurang lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui  <em>halaqah-halaqah</em> ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah,  demikian juga melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim  haji. Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau  kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana sudah ada majlisnya yang  dihadiri oleh para ulama dan disesaki para penuntut ilmu yang datang dari  berbagai penjuru. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya  untuk mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab  lamanya (<em>Qaul Qadim</em>). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat seniornya  yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za’farany dan  al-Karaabiisy.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana  dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad  lagi, tepatnya pada tahun 198 H. Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk  kemudian meninggalkannya menuju Mesir.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau tiba di Mesir pada tahun  199 H dan rupanya kesohorannya sudah mendahuluinya tiba di sana. Dalam  perjalanannya ini, beliau didampingi beberapa orang muridnya, di antaranya  ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy. Beliau  singgah dulu di <em>Fushthath</em> sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang  merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi pengajiannya di  Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari pengikut dua imam sebelumnya,  yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih condong kepadanya dan  terkesima dengan kefasihan dan ilmunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Mesir, beliau tinggal selama  5 tahun di mana selama masa ini dipergunakannya untuk mengarang, mengajar,  berdebat (Munazharah) dan meng-counter pendapat-pendapat lawan. Di negeri  inilah, beliau meletakkan madzhab barunya (<em>Qaul Jadid</em>), yaitu berupa  hukum-hukum dan fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir,  sebagiannya berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di  Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang diriwayatkan oleh  para muridnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Kemunculan Sosok Dan Manhaj (Metode) Fiqihnya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai hal ini, Ahmad Tamam di dalam bukunya <em>asy-Syaafi’iy:  Malaamih Wa Aatsaar</em> menyebutkan bagaimana kemunculan sosok asy-Syafi’i dan  manhaj fiqihnya. Sebuah manhaj yang merupakan paduan antara fiqih Ahli Hijaz dan  fiqih Ahli Iraq, manhaj yang dimatangkan oleh akal yang menyala, kemumpunian  dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kejelian dalam linguistik Arab dan  sastra-sastranya, kepakaran dalam mengetahui kondisi manusia dan  permasalahan-permasalahan mereka serta kekuatan pendapat dan qiyasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kembali ke abad 2 M, kita mendapati bahwa pada abad ini telah  muncul dua ‘’perguruan’ (Madrasah) utama di dalam fiqih Islam; yaitu perguruan  rasional (<em>Madrasah Ahli Ra`yi</em>) dan perguruan hadits (<em>Madrasah Ahli  Hadits</em>). Perguruan pertama eksis di Iraq dan merupakan kepanjangan tangan  dari fiqih ‘Abdullah bin Mas’ud yang dulu tinggal di sana. Lalu ilmunya  dilanjutkan oleh para sahabatnya dan mereka kemudian menyebarkannya. Dalam hal  ini, Ibn Mas’ud banyak terpengaruh oleh manhaj ‘Umar bin al-Khaththab di dalam  berpegang kepada akal (pendapat) dan menggali illat-illat hukum manakala tidak  terdapat nash baik dari Kitabullah mau pun dari Sunnah Rasulullah SAW. Di antara  murid Ibn Mas’ud yang paling terkenal adalah ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’iy,  al-Aswad bin Yazid an-Nakha’iy, Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadaany dan Syuraih  al-Qadly. Mereka itulah para ahli fiqih terdepan pada abad I H. Setelah mereka,  perguruan Ahli Ra`yi dipimpin oleh Ibrahim bin Yazid an-Nakha’iy, ahli fiqih  Iraq tanpa tanding. Di tangannya muncul beberapa orang murid, di antaranya  Hammad bin Sulaiman yang menggantikan pengajiannya sepeninggalnya. Hammad adalah  seorang Imam Mujtahid dan memiliki pengajian yang begitu besar di Kufah.  Pengajiannya ini didatangi banyak penuntut ilmu, di antaranya Abu Hanifah  an-Nu’man yang pada masanya mengungguli semua rekan sepengajiannya dan kepadanya  berakhir tampuk kepemimpinan fiqih. Ia lah yang menggantikan syaikhnya setelah  wafatnya dan mengisi pengajian yang diselenggarakan perguruan Ahli Ra`yi. Pada  masanya, banyak sekali para penuntut ilmu belajar fiqih dengannya, termasuk di  antaranya murid-muridnya yang setia, yaitu Qadi Abu Yusuf, Muhammad bin  al-Hasan, Zufar, al-Hasan bin Ziyad dan ulama-ulama selain mereka. Di  tangan-tangan mereka itulah akhirnya metode perguruan Ahli Ra`yi mengkristal,  semakin eksis dan jelas manhajnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan perguruan Ahli Hadits  berkembang di semenanjung Hijaz dan merupakan kepanjangan tangan dari perguruan  ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Aisyah dan para ahli fiqih dari  kalangan shahabat lainnya yang berdiam di Mekkah dan Madinah. Penganut perguruan  ini banyak melahirkan para imam seperti Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah bin  az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad, Ibn Syihab az-Zuhry, al-Laits bin Sa’d dan  Malik bin Anas. Perguruan ini unggul dalam hal keberpegangannya sebatas  nash-nash Kitabullah dan as-Sunnah, bila tidak mendapatkannya, maka dengan  atsar-atsar para shahabat. Di samping itu, timbulnya perkara-perkara baru yang  relatif sedikit di Hijaz, tidak sampai memaksa mereka untuk melakukan penggalian  hukum (istinbath) secara lebih luas, berbeda halnya dengan kondisi di Iraq.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat imam asy-Syafi’I muncul, antara kedua perguruan ini terjadi  perdebatan yang sengit, maka ia kemudian mengambil sikap menengah (baca:  moderat). Beliau berhasil melerai perdebatan fiqih yang terjadi antara kedua  perguruan tersebut berkat kemampuannya di dalam menggabungkan antara kedua  manhaj perguruan tersebut mengingat ia sempat berguru kepada tokoh utama dari  keduanya; dari perguruan Ahli Hadits, ia berguru dengan pendirinya, Imam Malik  dan dari perguruan Ahli Ra`yi, ia berguru dengan orang nomor dua yang tidak lain  adalah sahabat dan murid Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan  asy-Syaibany.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafi’i menyusun <em>Ushul</em> (pokok-pokok utama)  yang dijadikan acuan di dalam fiqihnya dan kaidah-kaidah yang dikomitmeninya di  dalam ijtihadnya pada risalah ushul fiqih yang berjudul <em>ar-Risalah</em>. Ushul  tersebut ia terapkan dalam fiqihnya. Ia merupakan Ushul amaliah bukan teoritis.  Yang lebih jelas lagi dapat dibaca pada kitabnya <em>al-Umm</em> di mana beliau  menyebutkan hukum berikut dalil-dalilnya, kemudian menjelaskan aspek pendalilan  dengan dalil, kaidah-kaidah ijtihad dan pokok-pokok penggalian dalil yang  dipakai di dalam menggalinya. Pertama, ia merujuk kepada al-Qur’an dan hal-hal  yang nampak baginya dari itu kecuali bila ada dalil lain yang mengharuskan  pengalihannya dari makna zhahirnya, kemudian setelah itu, ia merujuk kepada  as-Sunnah bahkan sampai pada penerimaan khabar Ahad yang diriwayatkan oleh  periwayat tunggal namun ia seorang yang Tsiqah (dapat dipercaya) pada diennya,  dikenal sebagai orang yang jujur dan tersohor dengan kuat hafalan. Asy-Syafi’i  menilai bahwa as-Sunnah dan al-Qur’an setaraf sehingga tidak mungkin melihat  hanya pada al-Qur’an saja tanpa melihat lagi pada as-Sunnah yang menjelaskannya.  Al-Qur’an membawa hukum-hukum yang bersifat umum dan kaidah <em>Kulliyyah</em> (bersifat menyeluruh) sedangkan as-Sunnah lah yang menafsirkan hal itu.  as-Sunnah pula lah yang mengkhususkan makna umum pada al-Qur’an, mengikat makna  <em>Muthlaq</em>-nya atau menjelaskan makna globalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk berhujjah  dengan as-Sunnah, asy-Syafi’i hanya mensyaratkan bersambungnya sanad dan  keshahihannya. Bila sudah seperti itu maka ia shahih menurutnya dan menjadi  hujjahnya. Ia tidak mensyaratkan harus tidak bertentangan dengan amalan Ahli  Madinah untuk menerima suatu hadits sebagaimana yang disyaratkan gurunya, Imam  Malik, atau hadits tersebut harus masyhur dan periwayatnya tidak melakukan hal  yang bertolak belakang dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama masa hidupnya, Imam asy-Syafi’i  berada di garda terdepan dalam membela as-Sunnah, menegakkan dalil atas  keshahihan berhujjah dengan hadits Ahad. Pembelaannya inilah yang merupakan  faktor semakin melejitnya popularitas dan kedudukannya di sisi Ahli Hadits  sehingga mereka menjulukinya sebagai <em>Naashir as-Sunnah</em> (Pembela  as-Sunnah).</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali faktor utama kenapa asy-Syafi’i lebih banyak  berpegang kepada hadits ketimbang Imam Abu Hanifah bahkan menerima hadits Ahad  bilamana syarat-syaratnya terpenuhi adalah karena ia hafal hadits dan amat  memahami <em>‘illat-‘illat</em>-nya di mana ia tidak menerima darinya kecuali yang  memang valid menurutnya. Bisa jadi hadits-hadits yang menurutnya shahih, menurut  Abu Hanifah dan para sahabatnya tidak demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah merujuk  al-Qur’an dan as-Sunnah, asy-Syafi’i menjadikan ijma’ sebagai dalil berikutnya  bila menurutnya tidak ada yang bertentangan dengannya, kemudian baru Qiyas  tetapi dengan syarat terdapat asalnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.  Penggunaannya terhadap Qiyas tidak seluas yang dilakukan Imam Abu Hanifah.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Aqidahnya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini dikatakan bahwa ia seorang  Salafy di mana ‘aqidahnya sama dengan ‘aqidah para ulama Salaf; menetapkan apa  yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dan menafikan apa yang dinafikan Allah dan  Rasul-Nya tanpa melakukan <em>Tahrif</em> (perubahan), <em>Ta`wil</em> (penafsiran  yang menyimpang), <em>Takyif</em> (Pengadaptasian alias mempertanyakan;  bagaimana), <em>Tamtsil</em> (Penyerupaan) dan <em>Ta’thil</em> (Pembatalan alias  pendisfungsian asma dan sifat Allah).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau, misalnya, mengimani bahwa  Allah memiliki Asma` dan Sifat sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya  dan Rasulullah dalam haditsnya, bahwa siapa pun makhluk Allah yang sudah  ditegakkan hujjah atasnya, al-Qur’an sudah turun mengenainya dan menurutnya  hadits Rasulullah sudah shahih karena diriwayatkan oleh periwayat yang adil;  maka tidak ada alasan baginya untuk menentangnya dan siapa yang menentang hal  itu setelah hujjah sudah benar-benar valid atasnya, maka ia kafir kepada Allah.  Beliau juga menyatakan bahwa bila sebelum validnya hujjah atas seseorang dari  sisi hadits, maka ia dapat ditolerir karena kejahilannya sebab ilmu mengenai hal  itu tidak bisa diraba hanya dengan akal, <em>dirayah</em> atau pun pemikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar, memiliki dua  tangan, berada di atas ‘arasy-Nya dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga menegaskan  bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan dengan hati. (untuk lebih  jelasnya, silahkan merujuk buku <em>Manaaqib asy-Syafi’i</em> karangan Imam  al-Baihaqi; <em>I’tiqaad al-A`immah al-Arba’ah</em> karya Syaikh Dr.Muhammad  ‘Abdurrahman al-Khumais [sudah diterjemahkan –kurang lebih judulnya-: ‘Aqidah  Empat Imam Madzhab oleh KH.Musthafa Ya’qub])</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Sya’ir-Sya’irnya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafi’i dikenal sebagai salah seorang dari empat imam  madzhab tetapi tidak banyak yang tahu bahwa ia juga seorang penyair. Beliau  seorang yang fasih lisannya, amat menyentuh kata-katanya, menjadi hujjah di  dalam bahasa ‘Arab. Hal ini dapat dimengerti, karena sejak dini, beliau sudah  tinggal dan berinteraksi dengan suku Hudzail yang merupakan suku arab paling  fasih kala itu. Beliau mempelajari semua sya’ir-sya’ir mereka, karena itu ia  dianggap sebagai salah satu rujukan bagi para ahli bahasa semasanya, di  antaranya diakui sendiri oleh seorang tokoh sastra Arab semasanya, al-Ashmu’i  sebagaimana telah disinggung sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad berkata,  “asy-Syafi’i adalah orang yang paling fasih.” Imam Malik terkagum-kagum dengan  bacaannya karena demikian fasih. Karena itu, pantas bila Imam Ahmad pernah  berkata, “Tidak seorang pun yang menyentuh tinta atau pun pena melainkan di  pundaknya ada jasa asy-Syafi’i.” Ayyub bin Suwaid berkata, “Ambillah bahasa dari  asy-Syafi’i.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir semua isi sya’ir yang dirangkai Imam asy-Syafi’i  bertemakan perenungan. Sedangkan karakteristik khusus sya’irnya adalah sya’ir  klasik. Alhasil, ia mirip dengan perumpamaan-perumpamaan atau hikmah-hikmah yang  berlaku di tengah manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara contohnya,<br />
- <em><strong>Sya’ir  Zuhud</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah jika engkau  lalai<br />
Pasti Dia membawa rizki tanpa engkau sadari<br />
Bagaimana engkau takut  miskin padahal Allah Sang Pemberi rizki<br />
Dia telah memberi rizki burung dan  ikan hiu di laut<br />
Siapa yang mengira rizki hanya didapat dengan kekuatan<br />
Semestinya burung pipit tidak dapat makan karena takut pada elang<br />
Turun  dari dunia (mati), tidak engkau tahu kapan<br />
Bila sudah malam, apakah engkau  akan hidup hingga fajar?<br />
Berapa banyak orang yang segar-bugar mati tanpa  sakit<br />
Dan berapa banyak orang yang sakit hidup sekian tahunan? </em></p>
<p style="text-align:justify;">-  <em><strong>Sya’ir Akhaq</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kala mema’afkan, aku tidak iri pada siapa  pun<br />
Aku tenangkan jiwaku dari keinginan bermusuhan<br />
Sesungguhnya aku  ucapkan selamat pada musuhku saat melihatnya<br />
Agar dapat menangkal  kejahatannya dengan ucapan-ucapan selamat tersebut<br />
Manusia yang paling  nampak bagi seseorang adalah yang paling dibencinya<br />
Sebagaimana rasa cinta  telah menyumbat hatiku<br />
Manusia itu penyakit dan penyakit manusia adalah  kedekatan dengan mereka<br />
Namun mengasingkan mereka adalah pula memutus kasih  sayang</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Tawadlu’, Wara’ Dan ‘ibadahnya</strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam  asy-Syafi’i terkenal dengan ketawadlu’an (kerendahan diri)-nya dan ketundukannya  pada kebenaran. Hal ini dibuktikan dengan pengajiannya dan pergaulannya dengan  teman sejawat, murid-murid dan orang-orang lain. Demikian juga, para ulama dari  kalangan ahli fiqih, ushul, hadits dan bahasa sepakat atas keamanahan, keadilan,  kezuhudan, kewara’an, ketakwaan dan ketinggian martabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali pun  demikian agungnya beliau dari sisi ilmu, ahli debat, amanah dan hanya mencari  kebenaran, namun hal itu semua bukan karena ingin dipandang dan tersohor. Karena  itu, masih terduplikasi dalam memori sejarah ucapannya yang amat masyhur,  “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku tidak peduli apakah Allah  menjelaskan kebenaran atas lisannya atau lisanku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai-sampai saking  hormatnya Imam Ahmad kepada gurunya, asy-Syafi’i ini; ketika ia ditanya oleh  anaknya tentang gurunya tersebut, “Siapa sih asy-Syafi’i itu hingga ayahanda  memperbanyak doa untuknya?” ia menjawab, “Imam asy-Syafi’i ibarat matahari bagi  siang hari dan ibarat kesehatan bagi manusia; maka lihat, apakah bagi keduanya  ini ada penggantinya.?”</p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafi’i seorang yang faqih bagi  dirinya, banyak akalnya, benar pandangan dan fikirnya, ahli ibadah dan dzikir.  Beliau amat mencintai ilmu, sampai-sampai ia berkata, “Menuntut ilmu lebih  afdlal daripada shalat sunnat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali pun demikian, ar-Rabi’ bin  Sualaiman, muridnya meriwayatkan bahwasanya ia selalu shalat malam hingga wafat  dan setiap malam satu kali khatam al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Ad-Dzahabi di dalam  kitabnya <em>Siyar an-Nubalaa`</em> meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman yang  berkata, “Imam asy-Syafi’i membagi-bagi malamnya; sepertiga pertama untuk  menulis, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga ketiga untuk tidur.”</p>
<p style="text-align:justify;">Menambahi ucapan ar-Rabi’ tersebut, Adz-Dzahabi berkata, “Tentunya,  ketiga pekerjaan itu hendaknya dilakukan dengan niat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, Imam  adz-Dzahabi benar sebab niat merupakan ciri kelakuan para ulama. Bila ilmu  membuahkan perbuatan, maka ia akan meletakkan pelakunya di atas jalan  keselamatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa kita sekarang-sekarang ini lebih berhajat kepada  para ulama yang bekerja (‘amiliin), yang tulus (shadiqiin) dan ahli ibadah  (‘abidiin), yang menjadi tumpuan umat di dalam menghadapi berbagai problematika  yang begitu banyaknya, La hawla wa la quwwata illa billaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam  asy-Syafi’i tetap tinggal di Mesir dan tidak pergi lagi dari sana. Beliau  mengisi pengajian yang dikerubuti oleh para muridnya hingga beliau menemui  Rabbnya pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah indah isi bait  <em>Ratsâ`</em> (sya’ir mengenang jasa baik orang sudah meninggal dunia) yang  dikarang Muhammad bin Duraid, awalnya berbunyi,<br />
<em>Tidakkah engkau lihat  peninggalan Ibn Idris (asy-Syafi’i) setelahnya<br />
Dalil-dalilnya mengenai  berbagai problematika begitu berkilauan</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>REFERENSI:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">-  <em>asy-Syafi’i; Malaamih Wa Atsar Fi Dzikra Wafaatih</em> karya Ahmad Tamam<br />
-  <em>I’tiqaad A`immah as-Salaf Ahl al-Hadits</em> karya Dr.Muhammad ‘Abdurrahman  al-Khumais<br />
- <em>Mawsuu’ah al-Mawrid al-Hadiitsah</em><br />
- <em>Al-Imam  asy-Syafi’i Syaa’iran</em> karya Muhammad Khumais<br />
- <em>Diiwaan al-Imam  asy-Syafi’i</em>, terbitan <em>al-Hai`ah al-Mishriiyyah Li al-Kitaab</em><br />
-  <em>Qiyaam asy-Syafi’i</em> (Thariqul Islam)<br />
- <em>Manhaj Aqidah Imam  asy-Syafi’i</em> karya Dr.Muhammad al-‘Aqil, penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi’i</p>
<p style="text-align:justify;">Diringkas dan disadur oleh,<br />
Abu Hafshoh al-‘Afifah</p>
<p style="text-align:justify;">Dikutib dari : <a href="http://alsofwah.or.id" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">http://alsofwah.or.id</span></span></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=31&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/imam-asy-syafii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UMAR IBN ABDUL AZIZ</title>
		<link>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/umar-ibn-abdul-aziz/</link>
		<comments>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/umar-ibn-abdul-aziz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 02:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ridho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://runia.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[UMAR IBN ABDUL AZIZ (Kisah Kezuhudan Dan Kesahajaan Seorang Pemimipin Negara Yang Taqwa) “Umar ibn Abdul Aziz oleh para ahlul ilmi terhitung dalam jajaran ulama ‘amilin (yang beramal) dan khulafaur rasyidin” (adz-Dzahabi). Bercerita tentang seorang khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khulafaur rasyidin yang kelima ini adalah sebuah cerita yang lebih harum daripada bau misk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=30&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul" style="text-align:justify;">UMAR IBN ABDUL AZIZ (Kisah Kezuhudan Dan Kesahajaan Seorang  Pemimipin Negara Yang Taqwa)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Umar ibn Abdul Aziz oleh para ahlul ilmi terhitung dalam  jajaran ulama ‘amilin (yang beramal) dan khulafaur rasyidin” </em>(adz-Dzahabi).<span id="more-30"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bercerita tentang seorang khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khulafaur  rasyidin yang kelima ini adalah sebuah cerita yang lebih harum daripada bau misk  (kasturi), lebih indah dari sepetak taman&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Sirah (perjalanan  hidup)-nya yang indah dan mulia adalah kebun yang subur, dimanapun anda  menempatinya, pasti akan menemukan sebuah tanaman yang segar&#8230;bunga yang  indah&#8230;dan buah yang ranum.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila tidak ada waktu yang lapang bagi  kita sekarang untuk memahami sirahnya yang menghiasi puncak sejarah, maka hal  tersebut tidak menghalangi kita untuk memetik setangkai bunga dari  tamannya&#8230;dan kita mengambil secercah cahayanya. Yang demikian itu karena apa  yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka tidak ditinggalkan sebagiannya (jika  tidak bisa semuanya sedikitpun tak apa).</p>
<p style="text-align:justify;">(Sekarang) ambillah tiga potret  kehidupan Umar ibn Abdul Aziz, kemudian akan diikuti dengan potret yang lain  dalam kitab berikut bila Allah mengijinkan dan memudahkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun  potret yang pertama, maka yang telah meriwayatkan kepada kita adalah Salamah ibn  Dinar, seorang ‘alim Madinah, qadli dan syaikhnya. Ia menuturkan, “Aku  mendatangi khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz, ia berada di “Khunashirah”  daerah bagian “Halab.” Umurku telah lanjut dan sudah lama aku tidak menemuinya.  Aku mendapatkannya berada di depan rumah, hanya saja aku tidak mengenalinya  karena keadaannya telah berubah tidak seperti yang pernah aku kenal ketika ia  menjabat sebagai gubernur Madinah. Ia kemudian mengucapkan selamat datang  kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala  aku mendekat kepadanya, aku berkata, “Bukankah engkau amirul mukminin Umar ibn  Abdul Aziz?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya&#8230;” jawabnya. Aku berkata, “Apa yang telah terjadi  denganmu?!! Bukankah wajahmu (dahulu) berseri, kulitmu segar dan kehidupanmu  penuh kenikmatan.” “Ya&#8230;” jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berkata, “Lalu apakah yang  telah merubah penampilanmu setelah engkau memiliki emas dan perak, dan engkau  menjadi seorang amir bagi kaum muslimin?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa yang telah berubah pada  diriku wahai Abu Hazim?!” tanyanya. Aku menjawab, “Badanmu (menjadi)  kurus&#8230;kulitmu kasar&#8230;wajahmu menguning&#8230;dan pancaran kedua matamu sayu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia lantas menangis dan berkata, “Maka bagaimana bila kamu melihatku di  dalam kubur setelah tiga hari?!&#8230;Kedua mataku meleleh di atas pipi&#8230;perutku  terputus-putus dan robek-robek&#8230;dan ulat (belatung) bergerak menyantap badanku.  Sesungguhnya apabila kamu melihatku pada saat itu –wahai Abu Hazim- niscaya kamu  akan lebih terheran lagi dengan keadaanku daripada harimu ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia  kemudian mengangkat pandangannya kepadaku dan berkata, “Tidakkah kamu ingat  sebuah hadits yang pernah kamu katakan kepadaku di Madinah wahai Abu Hazim?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menjawab, “Aku telah menyampaikan kepadamu banyak hadits wahai  amirul mukminin&#8230;(hadits) manakah yang engkau maksudkan?.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ia adalah  hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah” jawabnya. “Ya&#8230;aku mengingatnya  wahai amirul mukminin” kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia berkata, “Ulangilah untukku,  sesungguhnya aku ingin mendengarnya darimu.” Aku berkata, “Aku mendengar Abu  Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di  depan kalian ada jalan mendaki yang sulit dilalui, penuh dengan bahaya, tidak  ada yang mampu melewatinya kecuali setiap orang yang berbadan kurus (karena  banyak beribadah dan berjihad).”</p>
<p style="text-align:justify;">Umar kemudian menangis dengan begitu  kerasnya hingga aku merasa takut kalau ulu hatinya menjadi pecah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia  lalu mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata, “Apakah kamu akan  mencelaku wahai Abu Hazim apabila aku menguruskan badanku untuk jalan mendaki  lagi sukar tersebut, dengan harapan aku bisa selamat darinya&#8230;sedangkan aku  tidak menganggap diriku bisa selamat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun potret kedua dari potret  kehidupan Umar, maka ath-Thabari telah meriwayatkannya kepada kita dari  ath-Thufail ibn Mirdaas, ia menuturkan, “Sesungguhnya amirul mukminin Umar ibn  Abdul Aziz ketika menjabat sebagai khalifah, ia menulis surat kepada Sulaiman  ibn Abi as-Sariy wakilnya di “ash-Shughd”, ia berkata padanya, “Dirikanlah  penginapan-penginapan di negerimu untuk menerima tamu-tamu muslimin, apabila ada  salah seorang dari mereka yang melewatinya maka jamulah ia sehari semalam dan  layanilah dengan baik serta jagalah kendaraannya. Apabila ia mengeluh kelelahan  maka jamulah selama dua hari dua malam dan bantulah ia. Apabila ia adalah orang  yang terputus perjalanannya, tidak memiliki bekal serta kendaraan yang bisa  mengangkutnya, maka berilah kepadanya apa yang bisa menutupi hajatnya dan  sampaikanlah ia ke negerinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Wali tersebut melaksanakan perintah  amirul mukminin, ia mendirikan losmen-losmen yang diperintahkan untuk  menyiapkannya. Berita tersebut tersebar di setiap tempat. Mulailah orang-orang  di belahan timur dan barat negeri Islam menceritakan tentangnya dan memuji-muji  keadilan khalifah dan ketakwaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidaklah orang-orang penduduk  “Samarkand” (mendengarnya) kecuali mereka segera mengutus delegasi kepada  gubernur Samarkand yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan berkata kepadanya,  “Sesungguhnya pendahulumu “Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy” telah menjajah negeri  kami tanpa ada peringatan terlebih dahulu, dan di dalam memerangi kami ia tidak  menempuh jalan seperti apa yang kalian tempuh wahai sekalian kaum  muslimin&#8230;sungguh kami telah mengetahui bahwa kalian menyeru musuh kalian untuk  masuk Islam&#8230;bila mereka menolak, kalian menyeru mereka untuk membayar  <em>jizyah</em>&#8230;dan bila mereka menolak, kalian mengumumkan perang kepada  mereka. Sungguh kami telah melihat keadilah khalifah kalian dan ketakwaannya hal  mana ini membuat kami bersemangat untuk mengadukan pasukan kalian kepadamu&#8230;dan  meminta pertolongan denganmu atas apa yang ditimpakan kepada kami oleh salah  seorang panglima dari panglima-panglimamu. Maka, ijinkah kami –wahai amir- untuk  mengutus delegasi kepada khalifahmu, dan agar kami bisa mengangkat  kedzaliman-kedzaliman yang menimpa kami. Bila kami memiliki hak, maka kami akan  diberinya&#8230;dan bila tidak, maka kami akan kembali ke tempat semula.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sulaiman mengijinkan delegasi mereka untuk mendatangi khalifah di  Damaskus, sesampainya di rumah khalifah, mereka mengangkat (mengadukan) perkara  mereka kepada khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz.</p>
<p style="text-align:justify;">Khalifah kemudian  menulis surat kepada walinya yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy yang berisi, “Amma  ba’du&#8230;apabila suratku telah sampai kepadamu, maka tempatkanlah seorang qadli  ke penduduk “Samarkand” untuk menangani pengaduan mereka&#8230;Apabila ia memutuskan  kemenangan untuk mereka, maka perintahkan pasukanmu untuk meninggalkan kota  mereka&#8230;serulah kaum muslimin yang tinggal di antara mereka untuk meninggalkan  negeri mereka&#8230;dan kembalilah kalian sebagaimana semula dan (sebagaimana)  mereka dahulu sebelum Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy masuk ke negeri mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala delegasi tersebut datang kepada Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan  menyerahkan surat amirul mukminin kepadanya&#8230;ia segera menempatkan seorang  qadli qudlat (hakim agung) untuk mereka yaitu Jumai’ ibn Haadlir an-Naaji.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia (Jumai’) melihat kepada keluhan mereka dan meneliti berita  mereka&#8230;ia mendengarkan persaksian sekelompok tentara muslimin dan panglima  mereka. Sehingga teranglah baginya kebenaran klaim (dakwaan) penduduk Samarkand.  Ia pun memutuskan kemenangan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat itulah, sang wali  memerintahkan pasukan muslimin untuk mengosongkan rumah-rumahnya untuk mereka,  dan agar kembali ke perkemahan, dan memerangi mereka kali yang lain. Entah  mereka (muslimin) memasuki negeri mereka dengan perdamaian&#8230;entah mereka  memenangkannya dengan peperangan dan entah kemenangan tidak mereka dapatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika para pembesar kaum mendengar keputusan qadli qudlat muslimin  untuk mereka. Mereka berkata satu sama lainnya, “Celaka kalian&#8230;sungguh kalian  telah berbaur (berinteraksi) dengan mereka, kalian telah tinggal bersama mereka.  Kalian telah melihat budi pekerti mereka, keadilan dan kebenaran mereka apa-apa  yang kalian telah lihat&#8230;Maka, biarkan mereka (muslimin) tetap tinggal di sisi  kalian&#8230;dan tenanglah dengan bergaul dengan mereka&#8230;dan berbahagialah dengan  berteman dengan mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun potret ketiga dari potret kehidupan Umar  ibn Abdul Aziz adalah seperti yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibn Abdil Hakam  dalam kitabnya yang berharga, yang berjudul “Sirah Umar ibn Abdul Aziz.” Ia  menuturkan, “Ketika kematian mendatangi Umar, Maslamah ibn Abdul Malik masuk  menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya engkau –wahai Amirul Mukminin- telah  melarang mulut anak-anakmu dari harta ini. Alangkah baiknya bila kamu berwasiat  kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Maslamah selesai dari perkataannya, Umar berkata, “Dudukkan  aku.” Mereka kemudian mendudukkannya, dan ia berkata, “Sesungguhnya aku telah  mendengar apa yang kamu katakan, adapun perkataanmu “Sesungguhnya aku telah  melarang mulut anak-anakku dari harta ini&#8230;Demi Allah sesungguhnya aku tidak  melarang mereka dari apa yang menjadi hak mereka, dan aku tidak pernah  memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan menjadi haknya. Adapun perkataanmu  “seandainya kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau  kehendaki dari keluargamu”, maka hanyalah yang menjadi penerima wasiatku dan  waliku pada mereka adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab dengan haq, dan  Dia-lah yang menjaga orang-orang shalih. Ketahuilah wahai Maslamah, bahwa  anak-anakku adalah salah satu dari dua orang; entah orang yang shalih dan  bertakwa, maka Allah akan mencukupkannya dengan karunia-Nya dan menjadikan jalan  keluar bagi urusannya&#8230;dan entah orang yang thalih (jahat dan durhaka) dan  gemar melakukan maksiat, maka aku tidak akan menjadi orang pertama yang  membantunya dengan harta atas maksiat kepada Allah ta’ala.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia kemudian  berkata, “Panggilkan anak-anakku.” Ia (Maslamah) memanggil mereka yang  berjumlah sekitar sembilan belas orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika (Umar) melihat mereka  berlinanglah air matanya dan ia berkata, “Sungguh&#8230;aku akan meninggalkan mereka  sebagai pemuda yang fakir tidak memiliki sesuatupun.” Ia menangis hingga tidak  terdengar suaranya&#8230;kemudian menoleh kepada mereka dan berkata, “Wahai  anak-anakku&#8230;sesungguhnya aku telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk  kalian&#8230;sesungguhnya tidaklah kalian melewati seorang pun dari kaum muslimin  atau ahli dzimmah kecuali mereka melihat kalian memiliki hak atas mereka. Wahai  anak-anakku, sesungguhnya di depan kalian ada dua pilihan, entah kalian menjadi  kaya dan ayah kalian masuk neraka&#8230;atau kalian menjadi fakir dan ayah kalian  masuk surga. Aku tidak menyangka kecuali kalian akan mendahulukan untuk  menyelamatkan ayah kalian dari neraka daripada kekayaan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia  memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Bangkitlah,  semoga Allah menjaga kalian&#8230;bangkitlah semoga Allah memberikan rizki kepada  kalian&#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;">Maslamah menoleh kepadanya dan berkata, “Aku mempunyai yang  lebih baik dari itu wahai amirul mukminin.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa itu?!” katanya. Ia  menjawab, “Aku mempunyai tiga ratus ribu dinar&#8230;dan sesungguhnya aku  menghibahkannya kepadamu, maka bagilah untuk mereka&#8230;atau engkau bersedekah  dengannya bila engkau kehendaki.”</p>
<p style="text-align:justify;">Umar berkata kepadanya, “Bukankah ada  yang lebih baik dari itu wahai Maslamah?” “Apa itu wahai Amirul Mukminin?”  tanya Maslamah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menjawab, “Engkau mengembalikannya kepada orang yang  telah kamu ambil darinya, karena sesungguhnya kamu tidak punya hak.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua mata Maslamah berkaca-kaca, ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu  –wahai amirul mukminin- dalam keadaan hidup dan mati&#8230;engkau telah melembutkan  hati kami yang keras&#8230;engkau telah mengingatkannya di saat ia lupa&#8230;dan engkau  telah meninggalkan kenangan untuk kami dalam kumpulan orang-orang shalih.”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang kemudian mengikuti berita tentang anak-anak Umar  sepeninggalnya. Mereka melihat bahwa tidak ada seorangpun dari mereka yang  merasa butuh dan fakir&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika  berfirman, <em>“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya  meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir  terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada  Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” </em>(Surat  an-Nisaa: 9).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CATATAN:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai tambahan tentang kisah  Umar bin Abdul Aziz, lihatlah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Sirah Umar ibn Abdul Aziz oleh Ibn  Abdil Hakam 2. Sirah Umar ibn Abdul Aziz oleh Ibn al-Jauzi 3. Sirah Umar  ibn Abdul Aziz oleh al-Aajjurri 4. Ath-Thabaqatul Kubra oleh Ibn as-Sa’d:  5/330 5. Tarikh Khalifah: 321-322 6. At-Tarikh al-Kubra: 6/174 7.  Tarikh al-Fasawi: 1/568, 620 8. Ath-Thabari: 6/565-573 9. Al-Jarh wat  Ta’dil: 6/122 10. Ath-Thabaqat oleh asy-Syiiraazi: 64</p>
<p style="text-align:justify;">Dikutip dari : <a href="http://alsofwah.or.id" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">http://alsofwah.or.id</span></span></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/runia.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/runia.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/runia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/runia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/runia.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=runia.wordpress.com&amp;blog=2861210&amp;post=30&amp;subd=runia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://runia.wordpress.com/2008/04/25/umar-ibn-abdul-aziz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d0c361f7fcc8e481ba0ed55b9b70552?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ridho</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
